Ir. Haskarlianus Pasang, MenvEng, PhD:
Mengasihi Lingkungan

admin/ September 17, 2014/ Sapa

“Pelestarian lingkungan adalah mandat Allah, bukan pilihan.”

Jika Anda ingin mengembangkan pemikiran tentang kekristenan  dan wawasan lingkungan, maka pak Haskar lah orang yang
tepat untuk Anda ajak berdiskusi. Ir. Haskarlianus Pasang, MenvEng, PhD saat ini bekerja sebagai Country Manager di PT AES AgriVerde Indonesia, sebuah perusahaan yang mengembangkan proyek reduksi emisi gas rumah kaca.

Akhir tahun kemarin, buku beliau yang berjudul “Mengasihi Lingkungan” diterbitkan oleh Literatur Perkantas dan mendapat sambutan yang sangat baik dari berbagai pihak, karena tema yang mengaitkan iman Kristen dengan lingkungan memang jarang ditulis. Padahal, pelestarian lingkungan adalah mandat, dan bukan pilihan atau opsi dari Allah, demikian ungkap bapak dua orang anak (William David Pasang dan Jennifer Elizabeth Pasang) ini.

Penyuka warna biru dan hijau ini aktif melayani di gereja maupun lembaga pelayanan. Di GKI Bogor Baru, beliau dipercaya sebagai Ketua Majelis. Pak Haskar juga tercatat sebagai Ketua Yayasan Pendar Pagi, sebuah lembaga yang bergerak dalam pelayanan lintas budaya. Nah, jika Anda pernah mendengar tentang Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, beliaulah yang saat ini mengetuai lembaga pelayanan yang bergerak di bidang lingkungan tersebut.

Di almamaternya, pak Haskar mengetuai C4Fund, sebuah pelayanan mahasiswa dan alumni PMK IPB. Di Perkantas, beliau merupakan Ketua dari Sola Gratia Fund dan anggota Pengurus Harian Nasional Perkantas. Penyuka “BPK” dan sayur blender buatan istri ini juga melayani sebagai Tim Misi Alumni Yayasan Wiyata Asih.

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayat dari 2 Korintus 5:17 tersebut, bersama dengan ayat dari Roma 12:1-2, menjadi pegangan dalam hidupnya.

Haskarlianus Pasang

Ir. Haskarlianus Pasang, MenvEng, PhD

Ketika ditanya mengenai apa saja alasan yang mendasari keterlibatannya dalam pelayanan penyadaran untuk memelihara dan mengasihi lingkungan, beliau menjawab, “Pertama, saya orang berutang Injil dan harus dibayar dengan memberitakan Injil; Kedua, saya bertumbuh melalui pelayanan, sehingga pelayanan adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, seperti makanan untuk tubuh agar bertumbuh;

Ketiga, saya dicipta segambar dengan Allah sehingga saya harus meneladani Dia yang juga melayani. Terlebih, saya, seperti orang Kristen lainnya menerima mandat budaya (Kej 1:28; 2:15) dan amanat agung (Mat 28:19-20) untuk dituntaskan selama hidup; dan keempat, kepedulian lingkungan adalah passion saya. Saya mengangkat diri saya sebagai Duta Besar Allah bagi Lingkungan Hidup di Bumi Indonesia, sehingga mencoba (walaupun sulit dan berat) untuk mengembangkan gaya hidup dan pemikiran sesuai dengan status tersebut.”

Meski merasakan beratnya pelayanan untuk menyadarkan umat Tuhan dalam menghargai dan melestarikan lingkungan, beliau menyatakan akan terus berjuang karena memang itulah passionnya. Terakhir, beliau menyampaikan pesan kepada umat kita bahwa pelestarian lingkungan adalah mandat Allah, bukan pilihan.

Kalau kita ingin menghormati, menyembah dan memuliakan Allah dengan benar, maka kita juga juga harus mempedulikan apa yang dipedulikan-Nya, dan melestarikan apa yang dicipta-Nya dengan baik sejak semula. Isu kita terlalu besar, tetapi dengan memulai dari diri sendiri, keluarga, gereja, maka perubahan akan makin meluas dan menyentuh semua lini.

Pimpinan dan kekuatan dari Roh Kudus akan memampukan kita melakukan transformasi yang dikehendaki Allah, sehingga ciptaan Allah lainnya, khususnya lingkungan hidup, juga ditebus oleh mereka yang terlebih dahulu ditebus oleh darah Kristus yang mahal. (phay)


*Diterbitkan di Perkantas News Edisi III, Tahun 2011