Triawan Wicaksono:
Hati-hati Terhadap Kebesaran!

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” -Yohanes 3:30-

 

Bila kita ditanya apakah kita ingin menjadi orang besar, mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab “tidak” dengan segenap hati. Keinginan menjadi orang besar, kemungkinan besar bukanlah kerinduan kita yang terdalam. Melayani Tuhan dengan setia, itulah kerinduan kita yang terdalam. Apalagi ada Firman dalam Filipi 2 yang menggambarkan perendahan diri Kristus sampai pada titik dimana kita semua kemungkinan besar tidak akan pernah menyamainya. Tentunya angan-angan untuk menjadi orang besar tidak pernah terbersit dalam diri kita yang dikenal cukup “melek” Alkitab ini.

Akan tetapi, jika kita sudah melayani Tuhan dengan setia selama sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun, bahkan lebih (entah sebagai full timer atau tidak), maka mau tidak mau kita akan menjadi makin dikenal, makin banyak orang yang kita pengaruhi, makin banyak jasa dan perbuatan baik yang telah kita lakukan, sehingga makin banyak orang yang menghormati dan berterimakasih kepada kita. Seiring dengan bertambahnya tingkat senioritas kita dan ditambah dengan berbagai gelar kehormatan (misal Pdt, Ev, Majelis, Pendiri, dll) dan gelar akademis dari universitas terkemuka yang kita miliki, maka tentunya kita bukan hanya akan dihormati, tetapi mungkin juga akan disegani atau bahkan ditakuti.  Apalagi bila ditambah dengan berbagai bentuk pengorbanan dan air mata yang telah kita curahkan, orang mungkin memandang kita bukan hanya sekedar sebagai manusia, tetapi manusia setengah Allah.

Apa yang mungkin terjadi kemudian? Kepekaan dan keberanian untuk memberi kritik dan saran dari orang-orang di sekeliling kita (yang lebih junior), menjadi tumpul dan lenyap, karena adanya anggapan bahwa kita sudah sangat dewasa, sangat bijak, dan sangat senior, sehingga sangat kecil kemungkinannya atau bahkan tidak mungkin untuk melakukan kesalahan.

Bila kita sudah sampai tahap ini, maka disadari atau tidak, kita telah menjadi orang besar. Tanpa kita sadari, kita bisa taken for granted, menganggapnya sudah sewajarnya dan selayaknya kita dianggap dan diperlakukan seperti itu. Bukankah Firman Tuhan sendiri menyatakan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Mat 23:12)? Nah, karena kita sudah cukup lama merendahkan diri dan cukup banyak berkorban, maka kini saatnya Tuhan meninggikan kita dan menjadikan kita orang besar. Wajar bila kita bersyukur dan menganggap hal ini sudah sewajarnya dan selayaknya. Wajar bila kita menikmatinya dan menggunakannya untuk makin memperbesar pelayanan, yang akan membesarkan nama Allah dan tentunya nama kita juga.

Hal seperti ini tentunya bisa berakibat sangat positif bagi pelayanan. Akan tetapi tidak jarang justru bisa berakibat negatif bahkan destruktif. Kondisi seperti ini bisa memunculkan konflik-konflik picisan yang alih-alih berhubungan dengan hal-hal yang mendasar dan strategis, malahan berhubungan dengan mempertahankan kebesaran yang diyakini sebagai sudah sewajarnya dan selayaknya itu. Konflik seperti ini biasanya sangat sulit (untuk tidak mengatakan mustahil) untuk diselesaikan.

Yohanes Pembaptis di dalam Injil Yohanes 3:30 merindukan bahwa Kristus harus semakin besar dan dirinya harus semakin kecil. Bagi Yohanes Pembaptis yang pada saat itu sedang di puncak karir pelayanannya, yang paling penting bukan apakah dirinya makin besar atau tidak. Dia tidak ambil pusing berapa jumlah pengikutnya. Dia tidak peduli apakah pengikutnya lebih sedikit dari Kristus atau lebih banyak. Itu sama sekali tidak penting. Justru dia meyakini dirinya harus makin kecil dan makin kecil agar Kristus yang menjadi makin besar dan makin besar. Mengapa? Karena dia sadar, tugasnya yang terpenting adalah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang pertama. Itu sebabnya, bagi dia bukan kebesaran dirinya yang paling penting, melainkan kebesaran Kristus. Meskipun dia punya pengikut yang tidak sedikit dan dianggap seperti Elia atau nabi yang akan datang (Yoh 1:21), dengan tegas dia menolak semuanya itu. Bagi dia kebesaran yang demikian, tidak wajar diberikan pada dirinya. Itu hanya wajar dan sudah seharusnya diberikan kepada Kristus.

Pelayanan Perkantas mirip seperti pelayanan Yohanes Pembaptis. Jika Yohanes Pembaptis menyiapkan kedatangan Kristus yang pertama, maka tentunya kita sedang menyiapkan kedatangan Kristus yang kedua. Itu sebabnya, fokus pelayanan kita semestinya bukan membesarkan Perkantas apalagi membesarkan diri sendiri. Perkantas memang sudah besar seiring dengan ulang tahun ke-empat puluh yang baru saja kita rayakan. Kemungkinan Perkantas akan semakin besar di waktu-waktu mendatang. Pertanyaannya, apakah kita terus berfokus untuk membesarkan Kristus?

Kita yang melayani di Perkantas, entah sebagai board, staff, atau pengurus PAK, PMK, Persisten, harus terus menerus menyadari bahwa meskipun kita tidak bercita-cita menjadi orang besar, Tuhan mungkin akan membuat kita suatu saat nanti menjadi besar dan makin besar, makin dihormati dan makin disegani. Pertanyaannya bila kita sudah sampai pada tahap itu, apakah kita sedang terus bertumbuh di dalam kerendahan hati? Apakah kita makin rendah hati, makin rindu merendahkan diri seperti Kristus? Apakah orang masih bebas menyampaikan kritik dan saran kepada kita? Atau justru yang terjadi adalah sebaliknya, orang menjadi makin sungkan, takut, atau malah bosan menyampaikan kritik dan saran karena kita tidak pernah cukup rendah hati untuk menerima masukan? Tuhan memberkati.


*Penulis adalah Triawan Wicaksono, Sekjen Perkantas

** Diterbitkan dari Perkantas News Edisi III, Tahun 2011