Yohanes Agung Nugroho:
Memaknai Hidup

admin/ September 18, 2014/ Renungan

Satu tahun lagi telah berlalu. Masih ingatkah kita akan momen awal tahun baru 2011 – bagaimana kita merayakannya dan harapan-harapan baru apa yang kita buat? Rasanya baru sebentar saja momen itu kita rayakan, dan sekarang kita sudah merayakan momen seperti ini lagi untuk tahun yang berikutnya.

Mengambil waktu diam dan merenung ulang kehidupan kita selama setahun rasanya bukan lagi menjadi kebiasaan baru bagi kita semua. Kali inipun saya ingin mengajak kita semua melakukanya lagi – atau sekedar menambah kasanah perenungan saja seandainya kita sudah melakukannya.

Ada berbagai cara untuk merenungkan dan memaknai hidup ini. Dunia biasa mengukur makna hidup ini dari “kesuksesan-kesuksesan luar” dan kenyamanan yang berhasil diraih dalam hidup ini. Tentu kita tidak akan memakai ukuran-ukuran tadi. Pemikiran-pemikiran rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Filipi akan mengiring perenungan kita kali ini. Mari kita memulainya pasal demi pasal:

Pasal 1

18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,  …………  20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Hati yang terus tertuju kepada jiwa-jiwa, hati yang bergirang manakala melihat banyak tuaian yang dimenangkan bagi Kristus, kira-kira demikianlah gambaran hati Paulus. Keterbelengguannya yang membuat dia begitu ‘terbatas’ dan ‘tak berdaya’ selama dalam tahanan di Kaisarea Filipi dan di pemenjaraan pertamanya di Roma bukanlah menjadi fokus atau ukuran sukacita Paulus. Ia lebih concern kepada bagaimana Injil terus bergerak dan ia bisa melihat dengan jeli bagaimana keadaan yang harus dialami atau ditanggungnya saat itu tetap memiliki peran dalam perluasan Injil. Dan inilah yang menjadi sumber sukacitanya di tengah keadaan ‘malang’ yang ditanggungnya.

Bukan “bagaimana kondisiku sekarang” melainkan “bagaimana Injil berkembang” – inilah perenungan pertama kita. Adakah hidupku (bagaimanapun keadaanku saat ini) telah memberi konstribusi terhadap pergerakan Injil dan pemenangan jiwa-jiwa kepada Kristus? Seandainyapun kita belum diijinkan untuk melihat hasil dari konstribusi yang telah kita berikan, itu bukan persoalan, sebab kita tahu bahwa tidak akan sia-sia apa yang telah kita taburkan bagi perluasan Injil. Allah memakainya. Hidup untuk Kristus, untuk memberi buah bagi Kristus – itulah makna hidup yang pertama dalam perenungan kita ini.

Pasal 2

5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

 

Keteladanan Kristus dalam kerendahan hati-Nya hingga ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba begitu memukau Paulus. Demikianlah hatinya begitu sedih karena melihat kehidupan jemaat yang bertolak belakang dari keteladanan Kristus ini. Kehidupan yang tidak mengejar keinginannya sendiri, melainkan yang diserahkan pada Allah untuk mengejar keinginan Allah – yang artinya adalah untuk diserahkan bagi kebaikan orang lain – merupakan standar kehidupan yang Paulus pegang. Timotius dan Epafroditus adalah dua contoh orang yang menghidupi standar tersebut. “Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; sebab semuanya mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus,” (2:20-21) demikianlah rekomendasi Paulus mengenai Timotius. Juga tentang Epafroditus Paulus berkata, “Sebab oleh karena pekerjaan Kristus ia nyaris mati dan ia mempertaruhkan jiwanya untuk memenuhi apa yang masih kurang dalam pelayananmu kepadaku” (2:30). Dan tentang dirinya sendiri Paulus berkata, “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian” (2:17). Hidup yang bukan untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain, kehidupan seperti inilah yang berkenan kepada Kristus. Dan untuk memiliki kehidupan seperti ini dibutuhkan kerendahan hati dan kerelaan untuk menjadi hamba.

Inilah perenungan kita yang kedua: Apakah setahun ini aku menghidupi kehidupan seorang hamba – kehidupan yang bukan untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain?

Pasal 3

10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. 12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

 

Paulus sangat menyadari bahwa perjalanan rohaninya di dalam Kristus belumlah berakhir. Ada harapan-harapan yang masih terus dikejarnya dalam pengenalannya akan Kristus. Ada begitu banyak aspek dari Kristus yang ingin dia kenal lebih dalam lagi dalam pengalaman hidupnya – sifat-sifat-Nya yang sempurna, kuasa kebangkitan-Nya, penderitaan-Nya hingga kematian-Nya. Setiap peristiwa yang dialami tentulah dipakai Paulus untuk merenungkan tentang Kristus dan membuatnya semakin mengenal dan mengalami Kristus.

Peristiwa apa saja yang Tuhan ijinkan kita alami setahun ini? Peristiwa-peristiwa itu membuatku mengenal Allah yang seperti apa dan membawaku kepada pengalaman akan Allah yang seperti apa? Inilah perenungan kita yang ketiga.

Pasal 4

12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. 13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. …….. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Allah yang memelihara – inilah yang didengungkan Paulus di pasal ini. Karena Allah yang memelihara maka orang percaya bisa menikmati kecukupan itu dalam segala keadaan. Dan Paulus telah menemukan rahasia untuk menikmati rasa cukup (puas) itu dalam segala situasi dan kondisi – baik dalam masa kelimpahan maupun masa kekurangan. Pemeliharaan Allah sungguh tidak tergantung pada keadaan kita. Allah bisa memakai berbagai hal untuk memelihara kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya.

Kesadaran akan pemeliharaan Allah, inilah pokok renungan kita yang terakhir. Mampukah kita melihat dan mengakui pemeliharaan Allah atas segenap hidup kita selama setahun ini – apapun keadaan dan kondisi hidup kita. Apakah kita bisa mengucap syukur atas seluruh hidup yang kita jalani setahun ini oleh karena kita menyadari dan mengakui pemeliharaan-Nya atas kita?

Dan akhirnya, dengan berbagai perenungan yang telah kita lakukan terhadap perjalanan hidup kita di tahun 2011, marilah kita menuliskan satu tema yang mewakili perjalanan di 2011 tadi. Menambahkan satu ayat dalam tema tadi akan membuat kita semakin menyadari keterlibatan Allah di dalam hidup kita.

Berdasarkan hasil perenungan kita tadi dan segala yang telah kita dengar dari Allah, marilah kita juga menetapkan satu tema yang mewakili doa dan harapan kita untuk tahun 2012 bagi hidup pribadi kita. Tak lupa, satu ayat Firman Tuhan yang telah kita dengar yang melaluinya Tuhan berbicara kepada kita tentulah menjadi dasar utama dari tema kita tadi.

Secara pribadi saya mengucapkan Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012. Kiranya tahun-tahun hidup kita ke depan akan terus dan akan semakin kita maknai dengan perkara-perkara yang kekal dan berkenan kepada-Nya. Biarlah bagi kemuliaan-Nya semata kita menjalani hidup kita.


* Dituliskan oleh Yohanes Agung Nugroho

** Diterbitkan di Perkantas News Edisi IV, Tahun 2011