Ronald C. Arang, S.Th.:
Bertekun Mengerjakan Perubahan

Tidak banyak laki-laki yang memiliki hobi memasak, dan Ronald C. Arang, S.Th. adalah salah satunya. Alumnus Jurusan Pendidikan Agama Kristen Fakultas Teologi Universitas Kristen Palangkaraya ini “menyalurkan” hobinya dengan menjadi “chef” di kantin sekolah yang dikelola oleh kakak dan ibu angkatnya. Di sekolah yang sama, SMA Negeri 4 Palangkaraya, Ronald menjadi salah satu tenaga pengajar, yakni untuk pelajaran Agama, dan pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.

Pemuda dari suku Dayak Ngaju ini lahir di Kapuas dan besar di Kurun, dimana ia menyelesaikan pendidikannya di SMP 1 Kurun dan SMU 1 Kurun. Namun, Ronald mengenal Tuhan pertama kali pada bulan September 1998, ketika mengikuti persekutuan bagi mahasiswa baru di kampus dan mendengar berita Injil di sana. Ia lalu bergabung dalam kelompok kecil (KTB). Pembina rohani di kampusnya telah mengenal Perkantas dan memakai bahan-bahan pembinaan dari Perkantas Jawa Timur. Tahun 2000, penyuka olah raga badminton dan penggemar pasangan Lilyana/Natsir ini mengikuti Kamp Nasional Pembimbing Siswa (KNPS) di Bandungan. Waktu itu, ia adalah pengurus di pelayanan mahasiswa.

Sebelum tahun 2000, Ronald sudah berkenalan dengan Yudit Lam dari Perkantas Semarang yang datang ke Palangkaraya. Selain Yudit, ada pula dr. Irene Hintanputung yang sedang merintis pelayanan siswa di Palangkaraya. Dari dr. Irene inilah, Ronald mendapatkan beban pelayanan siswa dan mengikuti KNPS. Setelah lulus, Ronald kemudian menjadi asisten staf selama 3 tahun (2003-2006) dan beberapa bulan menjadi associate staf sementara menunggu SK PNS sebagai guru. Penyuka musik-musik balada terutama bertema lingkungan ini kemudian menjadi guru dan mendampingi pelayanan siswa hingga sekarang.

Selain mendampingi pelayanan siswa, penyuka gudeg dan masakan Jawa lainnya ini juga melayani sebagai Sekretaris BPP. Ketika ditanyakan, apa yang membuatnya masih terlibat dalam pelayanan Perkantas, Ronald menjawab, bahwa penyebabnya adalah karena di Perkantas lah ia mengenal Tuhan, sehingga ia merindukan agar orang-orang juga turut mengalami apa yang pernah ia alami. Banyak hal yang mengubah hidup, demikian akunya.

Pengkhotbah 11:9 dan Mazmur 8:4-5 merupakan ayat yang didapatnya ketika mengikuti Sidi atau pengakuan iman percaya dan juga ayat yang menjadi pegangannya, dimana ia belajar melihat bahwa waktu adalah anugerah Tuhan yang betul-betul harus dipertanggung jawabkan. Pengagum Ahok, atau Basuki Tjahaja Purnama, ini mengaku sangat senang ketika melihat perubahan hidup dari anak-anak didiknya. Ronald berjuang membukakan kepada para siswa yang diajarnya, bahwa menjadi PNS atau polisi bukanlah satu-satunya profesi yang ada, dan mendorong mereka untuk melihat profesi apa yang dibutuhkan oleh kota tempat tinggal mereka dan minat serta bakat mereka, sehingga dapat turut memajukan masyarakat.

Kerinduan yang sama disampaikannya bagi Perkantas, yakni agar menghasilkan alumni yang melayani Tuhan di bidangnya masing-masing. Khusus bagi Palangkaraya, Ronald merindukan agar pelayanan Perkantas di kotanya itu dapat membawa perubahan bagi masyarakat yang masih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan suku, okultisme, dan terbiasa “dimanjakan” oleh alam. Ia berharap, akan muncul banyak alumni yang berperan dalam pengembangan masyarakat, misalnya mengajarkan cara bertani yang baik, dan sebagainya. Dengan demikian, kehadiran Perkantas terasa nyata melalui peran alumninya di masyarakat.


*Diterbitkan dalam Perkantas News edisi II/2016