Noviani Lola:
Pelayan Yang Dipimpin Tuhan

1 Samuel 13:1-14
Apakah Anda pernah mendengar kalimat “Peraturan dibuat untuk dilanggar” Menurut Anda mengapa kalimat ini bisa muncul atau sering digunakan oleh orang-orang yang mungkin ingin menghindari aturan?
Sejatinya aturan ada untuk menolong kita agar bisa teratur, segalanya berjalan dengan tertib, dan mencegah adanya kekacauan. karena ketika kita memilih melanggar aturan, selalu ada konsekuensi yang harus ditanggung. Bahkan, ketidaktaatan terhadap aturan sering kali menunjukkan sikap hati yang tidak mau dipimpin atau tunduk pada otoritas yang ada. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai seorang staf atau pelayan Tuhan? Jika Tuhan adalah Pemimpin hidup kita, seperti apa seharusnya kehidupan yang dipimpin oleh-Nya?

Kehidupan seseorang yang dipimpin oleh Tuhan pertama-tama ditunjukkan dengan kesediaan untuk menantikan waktu Tuhan (1 Samuel 13:8-10).

Pada ayat 1-7 kita bisa melihat situasinya bagaimana kemenangan yang didapatkan oleh Yonatan bagi bangsa Israel membuat bangsa Filistin menyerang dengan pasukan yang sangat banyak bahkan mereka berkemah dan membuat bangsa Israel menjadi terkepung. Kondisi itu membuat bangsa Israel menjadi sangat ketakutan dan raja Saul pun menjadi panik tentu saja sampai membuat dia melanggar apa yang Samuel pesankan kepadanya.

Pada 1 Samuel 10:8 Samuel sudah memberi pesan kepada Saul untuk mendahuluinya ke Gilgal, disana Samuel akan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Samuel meminta Saul untuk menunggu selama 7 hari dan setelah Samuel ada disana barulah dia akan memberitahu apa yang harus Saul harus lakukan.
Kata “menunggu” dalam 1 Samuel 10:8 berasal dari bahasa Ibrani:

ְָּוהֹוַחְלת (wəhôḥaltā) Bentuk dasarnya adalah:
ָיַחל (çõḥal) Arti kata ָיַחל (çõḥal)
Kata ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar “menunggu”. Maknanya mencakup:

● Menunggu dengan sabar,
● Berharap,
● Menantikan dengan penuh pengharapan,
● Menunggu dengan keyakinan bahwa Tuhan akan bertindak.


Samuel tidak hanya berkata, “diam saja selama tujuh hari.” Ia meminta Saul untuk:

“Berharap kepada Tuhan dan tidak bertindak mendahului Tuhan, memiliki kepercayaan bahwa Tuhan akan bertindak melalui waktu dan cara yang telah Tuhan tetapkan.”
dan seperti yang kita baca di ayat 10 bahwa tidak lama setelah Saul selesai mempersembahkan korban, Samuel akhirnya datang.
Menunggu mungkin bukan sesuatu yang mudah untuk kita lakukan terlebih ketika sudah begitu
banyak tekanan yang kita dapatkan, tetapi mari memberi diri kita untuk tetap ada dalam pimpinan Tuhan dengan bersedia menunggu waktu Tuhan tanpa mendahului Tuhan.


Kehidupan seseorang yang dipimpin oleh Tuhan selanjutnya ditunjukkan dengan sikap tunduk pada otoritas (ay 11-13)

Kita juga melihat bagaimana Saul tidak hanya tidak sabar menunggu Samuel. Saul melanggar aturan, dia melakukan sesuatu yang bukan kewenangannya, kita sama-sama tahu bahwa pekerjaan mempersembahkan korban adalah tugas yang Tuhan berikan kepada imam bukan kepada raja, dan sudah jelas bahwa seharusnya Samuel lah yang mengerjakan bagian itu.

Pada ayat 11 adalah teguran Samuel terhadap Saul, namun respon Saul adalah pembelaan diri. Lalu pada ayat 13 “Kata Samuel kepada Saul: ”Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu;”

Saul panik ketika melihat rakyat mulai berlarian meninggalkan dia, mungkin Saul berpikir karena dia adalah raja dan kondisi sedang terdesak, dia boleh melakukan hal itu tetapi ternyata itu adalah bentuk ketidaktaatan oleh perintah Tuhan, tindakan Saul sesungguhnya menunjukkan keengganannya untuk dipimpin oleh orang lain terlebih oleh Tuhan.

Maka kita melihat konsekuensi besar yang akhirnya dia terima di ayat 14, dia harus kehilangan jabatannya sebagai raja dan dia ditolak oleh Tuhan.

Pertanyaannya sekarang dengan status kita sebagai seorang staf Perkantas atau pelayan Tuhan, seberapa besar kita bersedia tunduk pada otoritas? Baik kepada orang yang Tuhan sudah tentukan untuk berotoritas dalam hidup kita bahkan tunduk pada otoritas Tuhan? Sesuatu yang tidak dilakukan di dalam ketundukan pada otoritas Tuhan akan membuat kita sulit menjadi alat yang tepat di dalam pekerjaan-Nya.

Marilah kita memiliki kehidupan yang terus dipimpin oleh Tuhan dengan kesediaan kita untuk menantikan waktu Tuhan serta sikap kita yang tunduk pada otoritas-Nya.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »