Johan Andreas Santoso, M. Div.:
Kembali ke Akar

“Tugas yang harus diselesaikan terlalu banyak sedangkan waktuku tidak cukup”. “Aku tidak terampil menuliskan pikiranku menjadi sebuah makalah”. “Saya tidak punya cukup waktu untuk membaca sumber-sumber literatur dan tidak tahu bagaimana melakukan penelitian”. “Saya harus menjaga agar nilai mata kuliah saya prima, ini demi masa depan saya”. Beberapa pernyataan di atas sering kali dikutip oleh penyedia jasa pengerjaan tugas kuliah, laporan magang, penulisan makalah, bahkan tugas akhir. Singkatnya, yang mereka tawarkan adalah mengerjakan karya tulis ilmiah bagi orang lain sesuai pesanan topik atau soal. Karya tulis ilmiah itu kemudian akan diakui sebagai karya si pemesan. Sekilas nampak seperti fenomena pasar yang biasa, dimana ada kebutuhan atau permintaan pasar hadirlah penyedia kebutuhan tersebut.

Praktek ini bukan sesuatu yang baru. Sejak beberapa dekade silam, istilah yang lebih dikenal adalah “joki”. Joki ujian, joki skripsi dan lain sebagainya. Konotasi yang terkandung dalam istilah itu negatif, mengindikasikan kecurangan. Meski demikian, hingga hari ini istilah joki masih digunakan dan muncul dalam berbagai tawaran iklan layanan seperti itu. Secara cepat orang bisa mengenali dan mengategorikannya sebagai tindakan yang keliru. Namun, ketika istilahnya menjadi “penyedia jasa”, konotasi negatif itu nampaknya luntur. Sebagai bagian dari upaya promosinya para penyedia jasa tersebut juga bisa ditemui menampilkan video testimoni para pengguna jasa, terlepas dari apakah mereka itu betul-betul pengguna jasanya. Tanpa kehati-hatian, para mahasiswa bisa dengan mudah memiliki persepsi bahwa layanan tersebut memang penting dan bermanfaat bagi mereka; bisa menjadi solusi cepat untuk membentuk citra performa akademik yang menawan.

Mahasiswa perlu waspada akan praktek ini karena sejatinya bisa berpotensi menjerumuskan diri mereka sendiri dan mendatangkan kerugian. Mungkin akan ada yang membuat rasionalisasi, “Di sisi mana kerugiannya dan terjerumusnya kalau mereka bisa mendapat nilai bagus dan tidak terlalu kerepotan karena tugas yang menumpuk? Bukankah dengan demikian mereka jadi punya waktu untuk banyak hal lainnya yang diperlukan untuk membangun portofolio mereka demi siap masuk dunia kerja, seperti bekerja paruh waktu, magang di institusi ternama, atau, mungkin, untuk terlibat dalam pelayanan mahasiswa?”

Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut melewatkan satu hal penting dalam pendidikan. Dalam praktik perjokian, ada bagian yang tidak dijalani sepenuhnya dalam proses belajar. Proses yang dilangkahi akan membuahkan hasil yang tidak matang penuh. Penugasan, proses penelitian, serta penulisan adalah bagian integral dari pendidikan, terutama bagi pendidikan tinggi, untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik bergulat dengan topik atau persoalan yang diberikan, untuk melatih keterampilan mengakses dan menggunakan berbagai sumber untuk membentuk cara pandang atau pemikiran sehingga membentuk tawaran solusi yang mungkin diberikan, dan juga untuk mengembangkan kemampuan mengomunikasikan pemikiran dalam rekaman yang terbuka untuk ditanggapi orang lain. Bagaimana Anda membayangkan dampaknya jika hal-hal ini dilangkahi?

Tidak hanya kualitas dan kemampuan yang sifatnya akademik yang berkembang, nilai-nilai moral juga berkembang lewat penugasan, penelitian dan penulisan ilmiah. Sebagai satu contoh saja, kaidah pengutipan karya ilmiah orang lain yang secara serius dilatihkan dan dievaluasi akan membentuk peserta didik untuk menghargai jerih payah orang lain, belajar mengakui bahwa pendapatnya dipengaruhi atau mengikuti orang lain, dan menuntun pada eksplorasi hal-hal berbeda atau baru dari yang telah ada sehingga kreativitas menjadi terasah. Banyak kasus plagiarisme kita dengar, baik yang dilakukan oleh bukan siapa-siapa (baca: mahasiswa) hingga akademisi tersohor, karena kaidah pengutipan tidak ditegakkan.

Kalau pelibatan para “penyedia jasa” ini benar menjadi tren yang makin tumbuh termasuk di kalangan mahasiswa Kristen, maka kita perlu kuatir akan kualitas kognisi dan moral dari para lulusan beberapa tahun mendatang. Hal-hal seperti apa yang akan banyak kita temui di dunia kerja? Apakah peran Perkantas sebagai pembina siswa dan mahasiswa? Kita perlu mendiskusikan topik ini secara terbuka, dengan sikap saling mendengarkan dan terbuka untuk berbagai macam perspektif supaya kompleksitas persoalan ini bisa terwadahi dengan baik. Namun, kita juga perlu kembali kepada hal yang sederhana yang adalah akarnya, yaitu dengan membimbing dan melatih siswa dan mahasiswa untuk tidak berlaku curang dan untuk setia mengikuti proses yang memberikan mereka pertumbuhan. Bukankah Alkitab juga memberi kita pernyataan jelas bahwa “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”?

___________________
Dituliskan oleh Johan Andreas Santoso, Staf BPC DIY 

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »