Oize Alma Kundiman:
Kata-kata untuk Kebenaran

/ Februari 3, 2017/ Renungan

Beredarnya berita palsu atau yang disebut hoax telah menjadi salah satu persoalan serius akhir-akhir ini. Presiden Joko Widodo juga sudah menyatakan keresahannya di depan publik pada akhir tahun kemarin, khususnya tentang perlunya evaluasi media sosial. Maraknya peredaran berbagai berita palsu ini ditunjang oleh perkembangan teknologi lewat media sosial yang populer seperti Facebook, Whatsapp, Twitter, dll. Bermacam berita, baik tentang keagamaan, ekonomi, atau politik dishare/dibagikan atau diteruskan oleh para pengguna media sosial (biasanya disebut “netizen”). Berita menyebar tanpa keterbatasan jarak dan waktu lagi. Gambar dan video bisa disunting seperti asli. Massa bisa digerakan dengan mudah melalui media sosial, bukan saja dalam negeri, tetapi juga dunia internasional.

Berita, gambar, atau video menjadi viral, alias cepat menyebar di dunia maya. Tentu masih segar dalam ingatan kita kehebohan “om telolet om“ yang menjadi viral. Semua ini salah satu dampak dari perkembangan teknologi dan juga era keterbukaan informasi yang tak terelakkan lagi bagi kita. Indonesia menjadi salah satu negara pengguna internet terbesar di dunia, dimana menurut survey internet APJI (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet), sekitar 51,08% dan 70% mengakses dari mobile gadget, terutama media sosial. Hal ini tentunya bisa menjadi peluang tetapi sekaligus tantangan, salah satunya: terbukanya pintu bagi tersebarnya berita-berita palsu secara cepat dan luas.

Hoax bukan hal baru
Berita palsu, cerita yang diada-adakan, bukanlah hal baru. Bukan hanya muncul di zaman internet sekarang ini, realitas ini telah terjadi setua jatuhnya dunia ke dalam dosa. Kisah Adam dan Hawa yang digoda oleh Iblis menunjukan kecenderungan manusia berdosa untuk memilih memercayai apa yang ia percayai baik bagi dirinya, meskipun bertentangan dengan perintah firman Tuhan. Dalam Alkitab, kita dapat menemukan catatan tentang nabi-nabi palsu, nubuat palsu, ajaran-ajaran palsu. Di masa Perjanjian Lama, di antaranya ada kisah nabi Hananya yang menentang nabi Yeremia yang menyampaikan nubuat pembuangan ke Babel. Nubuatan palsu nabi Hananya tentunya memberi harapan palsu, membuat umat gagal memahami kehendak Allah (Yer. 28:1-17).

Di masa Perjanjian Baru, segera sesudah kebangkitan Yesus, para Imam-imam kepala berunding dengan tua-tua memutuskan memberi sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu untuk menyebarkan berita bohong bahwa mayat Yesus dicuri untuk meredam berita kebangkitan Yesus. Matius mencatat: “mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang” (Mat. 28:15). Namun meskipun kebohongan itu tersebar, berita kebangkitan Yesus tetap tersiar melalui perantaraan para murid. Markus mencatat berita itu sebagai berita yang kudus dan tak terbinasakan yang diberitakan dari timur ke barat (lih. Mark. 16:8).

Ketika gereja-gereja awal dibangun, kekristenan masih dianggap sekte Yahudi. Umat Kristen juga berhadapan dengan tersebarnya pengajaran sesat di dalam gereja sendiri yang menggeser kemurnian pengajaran iman Kristen melalui para Rasul. Surat Galatia menggambarkan amat geramnya rasul Paulus ketika jemaat Galatia terpengaruh oleh berbagai pengajaran palsu. Rasul Paulus harus menjelaskan kembali tentang hukum Taurat, pembenaran karena iman, dan kemerdekaan Kristen bagi jemaat, untuk meresponi pengajaran tentang tradisi Yahudi yang memengaruhi jemaat. Selain itu, pembicaraan-pembicaraan tentang kerasulan Paulus juga membuat rasul Paulus menjelaskan panggilannya dan hubungannya dengan para rasul. Rasul Paulus konsisten dengan pemberitaan kebenaran Injil.

Bahaya hoax
Di masa akhir hidupnya, rasul Paulus memperingatkan Timotius tentang keadaan manusia pada akhir zaman, yang disebutnya memalingkan telinga dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (II Tim. 4:4). Timotius diperingatkan tentang karakteristik pendengar dan pengajar palsu di zamannya yang sama-sama menolak kebenaran. Apa yang tidak bersumber dari kebenaran akan selalu relevan di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, itu sebabnya pengajaran palsu akan menjalar seperti penyakit kanker. Rasul Paulus menyebutkan pengajar palsu yang populer itu, di antaranya Himeneus dan Filetus, yang mengajarkan kebangkitan yang menyimpang dan merusak iman jemaat (II Tim. 2: 17-18). Berbeda dengan mereka, Timotius harus menjadi pekerja yang tidak usah malu yang berterus-terang memberitakan perkataan kebenaran itu, menghindari omongan yang kosong dan tak suci yang hanya menambah kefasikan (II Tim 2: 15-16).

Mengenai penderitaan karena dibuat dan disebarkannya tuduhan palsu, Gereja Tuhan sudah pernah mengalaminya. Penganiayaan fisik, seperti dikejar, disalibkan, dicabik-cabik singa, atau dibakar karena tuduhan sebagai dalang kebakaran kota Roma pada tahun 64 M. Meskipun demikian, darah para martir ini telah menjadi benih yang tidak mati dari iman Kristen. Gereja Tuhan tidak akan sepi dari perlawanan dunia yang menolak Tuhan, karena sejarah gereja menunjukkan penderitaan seperti itu sering dipakai Tuhan untuk pertumbuhan iman jemaat.

Namun demikian, ancaman yang berbahaya bukan hanya sebatas penganiayaan dan penderitaan fisik. Yang tidak kalah berbahaya adalah penganiayaan nonfisik berupa hoax, yaitu menjalarnya ajaran palsu yang meruntuhkan iman jemaat. Sejarah gereja mencatat beberapa kali diadakannya Konsili atau pertemuan pemimpin gereja terutama membahas soal ajaran dan penyimpangannya. Ini menunjukan kerentanan gereja pada penyimpangan ajaran. Di masa para rasul pun sudah ada pertemuan di Yerusalem untuk membahas apa yang sudah diajarkan rasul Paulus kepada orang Kristen nonYahudi untuk menghindari berlanjutnya kesalahpahaman yang memecah belah orang percaya (Kis. 15:1-21).

Hikmat mengatasi hoax
Bunda Teresa pernah berpesan, “Perkataan yang tidak diterangi oleh firman Tuhan hanya akan menambah kegelapan dunia.” Sebuah peringatan tentang pentingnya hidup dipimpin oleh firman Tuhan sebagai hikmat hidup untuk dapat mengenali ajaran sesat ataupun apa yang disebut rasul Paulus sebagai omongan tak suci yang hanya menambah kefasikan. Kita sendiri sebagai manusia berdosa akan gagal memahami apa yang benar menurut hikmat Tuhan. Kita perlu menyadari, bahwa kata-kata dapat menyebar bahkan dalam kesunyian, dan sekalipun dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk membangun, kata-kata juga dapat menjadi alat yang berbahaya.

Kebenaran harus selalu menjadi concern orang percaya, karena di dalam kebenaran, di situlah terdapat damai sejahtera. Jangan sampai kita berkontribusi pada semakin pekaknya dunia terhadap hal-hal yang benar. Berita palsu dan pengajaran palsu memiliki daya perusak yang aktif dalam gereja, dalam komunitas pelayanan kita, dan dalam masyarakat. Sebagai netizen, kita perlu ingat, bahwa tetap ada keterbatasan dari media sosial sebagai media informasi dan komunikasi. Karena itu, kita perlu bijaksana untuk menyimak dan menyikapi banyak hal di gadget kita masing-masing, supaya kita tidak berkontribusi pada menyebarnya berita palsu.


Penulis adalah Pemimpin Cabang Perkantas Sulut