Triawan Wicaksono:
Menghindari Stagnasi dan Kemerosotan

Merayakan tahun baru dapat menjadi satu rutinitas yang miskin bahkan tanpa makna, apalagi bagi kita yang sudah makin mapan. Bagi kita yang sudah lama bekerja, kita mungkin merasa sudah tahu apa yang harus kita kerjakan. Kita bisa kehilangan kreativitas, inovasi dan terobosan yang pada akhirnya memimpin kepada stagnasi. Bagi kita yang sudah lama melayani, sudah makin senior, kita juga bisa merasa sudah berpengalaman, sudah cukup rohani, sehingga merasa tidak membutuhkan masukan dan kritik. Akibatnya, tentu saja kemerosotan.

Memasuki tahun baru berarti kita masih diberi kesempatan untuk hidup, bekerja, dan melayani lebih lama. Masih ada hal-hal yang perlu kita kerjakan. Masih ada sesuatu yang perlu kita rintis dan kembangkan. Bisa juga masih ada perubahan yang Allah ingin kita kerjakan dalam institusi dimana kita bekerja atau melayani. Mungkin juga ada saudara, sahabat, atau orang lain yang perlu kita perhatikan dan tolong agar mengenal Kristus dan bertumbuh di dalam-Nya.

Memasuki tahun baru juga berarti Allah belum selesai dengan kita. Dia belum selesai membentuk kita. Gambaran Kristus belum sepenuhnya nyata di dalam diri kita (band. Roma 8:29). Garam kita kadang tawar dan terang kita kadang ditaruh di bawah gantang. Masih ada dosa dan kelemahan yang membuat kita menjadi batu sandungan. Masih ada kemunafikan di sana sini. Kita masih diberi waktu untuk hidup, untuk bertumbuh, untuk berubah, meninggalkan dosa, kemunafikan, dan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui (Kol. 3:10).

Memasuki tahun baru adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas dan kesibukan sepanjang tahun yang sudah berlalu. Evaluasi diri di hadapan Khalik semesta dan sesama penting untuk dilakukan. Kita perlu jujur mempertanyakan hal-hal rutin yang selama ini kita kerjakan dengan segala daya. “Apakah saya melakukan semua itu demi Allah atau diri sendiri?” “Apakah saya makin bertumbuh dan berbuah atau cenderung sekedar sibuk bekerja dan melayani?” “Apakah saya membawa orang-orang yang saya layani makin dekat kepada saya atau Allah?” “Apakah saya makin rendah hati dan bergantung kepada Allah atau makin tinggi hati sehingga kurang membutuhkan Allah?” Dan seterusnya.

Bertanya demikian tidaklah mudah, karena manusia pada dasarnya bebal, sulit berubah. Seiring bertambahnya usia, manusia akan menuju kepada kemapanan. Bukan hanya kemapanan dalam pengetahuan dan skill tetapi juga kebiasaan dan karakter. Sesuatu yang makin mapan akan makin sulit berubah. Akibatnya bisa jadi makin tahun, kita bukannya makin berubah makin serupa Kristus tetapi makin menuju kepada stagnasi yang akhirnya berujung kepada kemerosotan.

Sebagai anak-anak Allah, di tahun yang baru ini kita dipanggil untuk sungguh-sungguh bertanya: dalam hal apa kita ternyata—tanpa disadari—sudah mirip dengan orang bebal? Dalam hal apa kita mulai memasuki kemapanan, stagnasi, bahkan kemerosotan? Dalam hal apa kita merasa paling benar? Dalam hal apa kita mulai kompromi? Dalam hal apa kita cenderung cuek dan masa bodoh? Dalam hal apa kasih kita kepada Allah dan sesama mulai memudar?

Ingatlah bahwa setiap kita memiliki titik buta. Artinya, bila tidak ada yang membukakan, kita pasti tidak dapat melihat alias tetap buta. Jangan sampai makin tahun titik buta kita bukannya makin berkurang, tetapi malah makin bertambah.

Itu sebabnya, bertanya pada Tuhan dan sesama menjadi keniscayaan. Janganlah kita hanya bertanya pada Tuhan, tetapi bertanyalah juga pada sesama. Jangan hanya bertanya pada mereka yang memuji, tetapi juga pada mereka yang mengkritik. Jangan hanya bertanya pada mereka yang lebih tua dan berpengalaman, tetapi juga kepada mereka yang sebaya bahkan yang masih muda dan “bau kencur”. Jangan hanya bertanya pada orang-orang yang jauh, melainkan bertanyalah juga pada mereka yang dekat. Itu semua harus dilakukan dengan kejujuran, kerendahan hati, dan keterbukaan terus menerus.

Memasuki tahun baru juga berarti kasih dan setia Allah masih tercurah untuk kita. Ada harapan yang tak lekang oleh stagnasi dan kemerosotan kita. Pengharapan di dalam Kristus tidak pernah menjadi stagnan dan merosot.

Kiranya di tahun yang baru ini kita diberi anugerah untuk melihat apa yang selama ini tidak kita lihat, menyadari apa yang selama ini tidak kita sadari, dan mengubah hal-hal yang selama ini enggan kita ubah.

Selamat tahun baru. Selamat mengevaluasi diri. Selamat bertanya. Selamat berubah. Tuhan Yesus memampukan.


*Triawan Wicaksono adalah Sekjen Perkantas