Ernawanti Tampubolon, M.Pd:
Catatan Seorang Guru: Bersukacita di Dalam Tuhan

Setiap pagi, Ibu Guru Anita selalu mengeluh malas datang ke sekolah untuk mengajar. Ia sudah 10 tahun mengabdi di sekolah itu. Ia datang dengan berat hati pada pagi hari, namun penuh semangat ketika waktu pulang tiba di sore hari. Ternyata, Ibu Anita bukan satu-satunya. Hampir semua rekan gurunya juga demikian. Mereka selalu menantikan hari Jumat sebagai pertanda datangnya akhir pekan setelah hari-hari yang terasa membosankan dan melelahkan. Namun, mereka tetap menjalaninya karena tidak punya pilihan lain.

Permasalahan yang dialami oleh Ibu Guru Anita dan rekan-rekannya bukanlah masalah lokal saja, melainkan telah menjadi permasalahan global. Sebuah survei yang dilakukan oleh RAND Corporation pada 2024 menyebutkan bahwa 60% dari hampir 1.500 guru mengatakan mengalami kelelahan karena stres. Survei yang didanai oleh National Education Association (NEA) dan American Federation of Teachers (AFT) tersebut juga mengungkapkan bahwa kekecewaan terhadap dunia mengajar yang dirasa tidak sepadan dengan pengorbanan mereka menjadi salah satu penyebabnya.

Ungkapan kekecewaan para pendidik Indonesia kini sangat mudah ditemukan dan mengalir deras di berbagai platform media sosial. Keletihan, kekecewaan, bahkan keputusasaan akibat beragam persoalan dalam dunia pendidikan disuarakan begitu keras melalui kritik tajam terhadap perubahan kurikulum yang selalu digadang-gadang mengikuti perkembangan zaman, namun kerap menimbulkan kebingungan dan tidak tepat sasaran; lingkungan kerja yang sarat intrik; kepemimpinan sekolah yang pilih kasih; orang tua yang kurang suportif; hingga murid yang kehilangan motivasi belajar.

Pendidik Kristen pun berada di pusaran yang sama. Kita sering kehilangan sukacita karena merasa tidak lagi mampu menciptakan atau mempertahankan kondisi ideal. Kita harus menyaksikan kondisi itu runtuh di depan mata tanpa bisa melakukan apa pun untuk mengubahnya. Sebab, ketika kita berusaha memperbaiki keadaan, yang datang justru tekanan dan penolakan. Hal itu membuat banyak guru mengeluh karena kecewa dan tawar hati. Hati yang tawar ini membuat pendidik Kristen datang ke sekolah hanya untuk mengajar, namun kehilangan arti sebagai anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi berkat. Pertanyaannya, sampai kapan hal ini akan terjadi?

Sebenarnya, apakah yang membuat kita bersukacita sebagai guru? Tentu kita memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang bersukacita karena kesejahteraan yang terjamin, ada yang karena impiannya menjadi pegawai negeri sipil akhirnya terwujud, dan ada pula yang memiliki karier gemilang sebagai kepala sekolah serta menjadi sosok yang diandalkan di sekolah tersebut. Ada juga yang bersukacita karena murid yang diajarnya baik, patuh, dan mudah menyerap pembelajaran.

Lalu, apakah kita masih mampu bersukacita ketika ada hal di luar kuasa kita yang mengambil semua itu? Misalnya, kesejahteraan menurun akibat efisiensi anggaran karena jumlah murid merosot. Atau ketika cita-cita menjadi pegawai pemerintah akhirnya terwujud, tetapi realitas lingkungan kerja tidak seperti yang dibayangkan—terutama ketika disparitas antara senior dan junior begitu terasa hingga beban kerja semakin berat karena dianggap masih muda. Bisa juga ketika jabatan dicopot dan digantikan oleh orang baru yang memiliki idealisme berbeda dengan kita. Belum lagi ketika murid yang diajar pada tahun ajaran berikutnya ternyata sangat sulit dibimbing dan kurang disiplin. Sangat mungkin semua hal itu membawa kita pada kekecewaan dan keletihan yang berujung pada hilangnya sukacita sebagai pendidik. Pada akhirnya, pendidik Kristen pun mungkin akan menjadi seperti Ibu Anita dan rekan-rekannya—selalu menantikan hari Jumat, hari berakhirnya sekolah dalam minggu itu, karena telah kehilangan sukacita dalam mengajar.

Mari sejenak melihat firman Tuhan yang menjadi tuntunan hidup kita. Jika kita membaca Filipi 3:1–11, kita akan menemukan bahwa dalam ayat-ayat ini Paulus membandingkan kehidupan lamanya dengan kehidupan barunya. Dari sana, ia mengajak kita melihat apa sebenarnya sukacita itu.

Jika kita melihat kehidupan lama Rasul Paulus, mungkin kita akan sedikit heran mengapa ia menyebut masa lalunya sebagai sampah. Banyak orang tidak menyadari bahwa Paulus—yang dahulu bernama Saulus—bukanlah orang sembarangan. Bahkan, setidaknya ada beberapa alasan kuat yang menunjukkan bahwa ia termasuk elite intelektual pada zamannya.

Paulus adalah orang Yahudi yang lahir di Tarsus (Kisah Para Rasul 22:3). Tarsus merupakan kota pendidikan dan pusat ilmu pengetahuan terkemuka di wilayah Kilikia pada masa Romawi kuno.

Ia dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel, seorang guru Taurat yang sangat terpandang. Jika diibaratkan, Paulus adalah lulusan universitas terbaik dunia.

Semua “prestasi identitas” ada padanya: berasal dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, dan keturunan Abraham (Filipi 3:5).

Ia hidup sangat taat pada hukum Taurat, tanpa cela menurut standar agama Yahudi (Filipi 3:5–6).

Ia bahkan dipercaya menjalankan tugas khusus untuk menganiaya orang Kristen, yang pada saat itu dianggap sebagai pembelot iman Yahudi. Tugas seperti ini tidak diberikan kepada orang biasa, melainkan kepada mereka yang memiliki kualitas terbaik (Filipi 3:5–6).

Lalu, mengapa ia menganggap semua kebanggaan itu tidak lagi berarti ketika ia mengenal Tuhan Yesus (Filipi 3:7–8)? Dasar keyakinannya berubah: dari pribadi yang membanggakan prestasi diri menjadi pribadi yang bersukacita di dalam Tuhan (Filipi 3:1). Tujuan hidup Paulus berubah ketika ia mengenal Tuhan Yesus. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu dianggapnya rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus lebih mulia daripada semuanya itu. Bahkan, semuanya kini dianggapnya sampah supaya ia memperoleh Kristus.

Hal ini mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan sukacita pada prestasi diri atau identitas lainnya. Sebab, ketika kita tidak mampu meraihnya atau ketika semua itu diambil dari kita, kita bisa kehilangan sukacita, bahkan dalam mendidik murid-murid kita. Dulu, saya sering merasa terlalu sedikit berbuat untuk Tuhan karena hanya seorang guru biasa. Namun, Tuhan mengingatkan saya bahwa saya tidak perlu menjadi hebat untuk berbuat bagi-Nya, karena yang terpenting bagi Tuhan adalah relasi saya dengan-Nya.

Hal ini juga menolong kita memahami bahwa ketika ada hal di luar kuasa kita yang tidak sanggup kita ubah, hal itu tidak perlu berdampak besar terhadap sukacita kita dalam mendidik murid. Misalnya, kita memiliki pemimpin atau rekan kerja dengan idealisme yang berbeda. Mereka mungkin adalah orang yang suka memandang rupa, pilih kasih, meremehkan, atau bahkan memfitnah. Semua itu tidak harus membuat kita langsung ciut dan tawar hati. Meski kita perlu mengambil waktu untuk memulihkan diri, kita tetap bertahan demi visi untuk mendidik murid-murid kita.

Bagaimana jika kesulitan datang dari murid-murid kita? Mereka menolak cara kita mendidik mereka sebagaimana sepatutnya. Misalnya, mereka tidak memiliki motivasi belajar, tidak mau menerima teguran, atau lebih menyukai kebebasan. Akibatnya, ketika kita hadir sebagai guru yang serius mengajar, mereka menganggap kita sebagai sosok yang kaku dan terlalu keras.

Dunia saat ini telah membentuk banyak murid menjadi pribadi yang hanya peduli pada hal-hal yang instan—terutama murid di tingkat sekolah menengah atas. Saya sering merasa bahwa murid-murid menganggap saya sebagai guru yang kaku dan memberi terlalu banyak aktivitas yang melelahkan, meskipun saya tahu tidak demikian. Padahal, pada tahap ini mereka seharusnya sudah mampu berpikir kreatif, menggunakan penalaran abstrak, dan bertindak lebih konkret. Kelemahan ini membuat kita harus menyesuaikan pembelajaran, dan hal itu masih bisa kita toleransi. Namun, kedisiplinan, motivasi belajar, serta cara memperlakukan orang lain adalah hal-hal yang harus terus kita tanamkan secara konsisten, tanpa tarik ulur.

Meski demikian, dibutuhkan guru yang memiliki pribadi yang bersukacita hanya di dalam Tuhan sehingga ketika kondisi tidak ideal sekalipun, ia tetap mampu berdiri tegap dan tidak tawar hati. Ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan sekitarnya hingga akhirnya ikut arus. Meski dunia tidak adil kepadanya, ia tetap menjadi pribadi yang tenang dan terus berjuang melakukan yang terbaik. Ia memiliki hikmat untuk mengerjakan yang benar karena ketaatannya kepada Tuhan, sekaligus menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama. Bahkan, ketika ada orang yang berusaha menjatuhkannya, ia memilih untuk tidak membenci, melainkan tetap mengasihi, seperti yang dikatakan oleh John of the Cross:

“Berusahalah menjaga hatimu dalam kedamaian; jangan biarkan peristiwa dunia ini mengganggunya.”

Bersukacitalah di dalam Tuhan

Ernawanti Tampubolon, M.Pd

Penulis adalah seorang guru di salah satu sekolah di Pekanbaru.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »