Iwan Petrus Ruben H. Sipahutar, S.P.:
Menikmati Hubungan Pribadi dengan Tuhan

admin/ Januari 7, 2016/ Sapa

Saya lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang beragama Kristen, dimana orang tua dan saudara saya sangat aktif dalam kegiatan di gereja kami.

Saya mulai mengikuti kegiatan Persekutuan Siswa Kristen Medan (PSKM) saat duduk di kelas 2 SMP pada waktu mengikuti Kebaktian Awal Tahun Ajaran, yang ditindaklanjuti dengan Pembinaan Kelompok Kecil bersama teman-teman satu sekolah. Sayangnya, perjalanan kelompok kecil kami tidak berlangsung baik, karena satu per satu mengundurkan diri.

Meski demikian, Tuhan tetap memelihara saya untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, karena setelah masa SMP dan memasuki SMU, saya dipertemukan dengan teman-teman kelompok kecil yang baru dengan PKPA yang baru juga. Saya mulai terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan PSKM. Tetapi, keterlibatan saya mendapat tantangan dari orang tua yang belum mengerti mengenai pelayanan PSKM. Saya dilarang mengikuti kegiatan-kegiatan PSKM, termasuk KTB. Namun setelah menerima kunjungan-kunjungan dari PKPA dan teman-teman KK ke rumah, akhirnya orangtua mengizinkan untuk ikut kegiatan PSKM lagi.

Masa pembinaan dalam KK dan pelayanan di PSKM sangat membentuk kepribadian dan karakter saya untuk menghadapi berbagai masalah kehidupan. Tuhan melalui pelayanan PSK Medan membentuk saya yang dulunya adalah siswa yang pemalu, gagap, serta lambat untuk berbicara, menjadi seorang yang berani untuk menyampaikan pendapat dan pemikiran, bahkan juga untuk memimpin.

Tuhan adalah pemilik kehidupan ini, dan Dia punya rencana ketika kita dilahirkan di dunia ini, dan Dia mau kita mengerti dan taat pada rencana dalam kehidupan kita.

Saya sangat meyakini pernyataan di atas, walaupun pada awalnya saya tidak terlalu paham. Perjalanan kehidupan memberi saya pemahaman dan pengertian akan pernyataan tersebut. Kehilangan orang tua dalam rentang 5 (lima) bulan pada semester 3 (tiga) perkuliahan merupakan pukulan yang sangat berat bagi hidup saya. Semua seolah-olah menjadi gelap, dan saya merasa sebagai orang yang paling berduka di dunia ini.

Sering saya bertanya kepada Tuhan, kenapa semua kemalangan terjadi di hidup saya? Kenapa Tuhan izinkan terjadi? Kenapa dan kenapa, pertanyaan itu selalu berdengung di telinga saya.

Ketiadaan orang tua di rumah menjadikan hidup saya menjadi tidak teratur. Kesibukan kuliah dan kegiatan di PSKM membuat waktu saya banyak habis di luar rumah. Waktu istirahat yang kurang dan makan yang tidak teratur membuat saya jatuh sakit. Paru-paru saya bermasalah. Dokter menyatakan bahwa saya sakit TBC dan harus melakukan perngobatan jalan selama 9 bulan.

Shocked! Ya, saya terguncang karenanya, dan kembali saya bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia izinkan lagi hal yang buruk terjadi di hidup saya. Bukankah selama ini saya tetap mengerjakan aktivitas pelayanan? Kenapa, Tuhan? Apa yang Tuhan inginkan dari saya? Setelah orang tua meninggal, kemudian saya sakit paru-paru dan membutuhkan dana pengobatan yang tidak sedikit.

Namun di sisi lain, kedukaan dan kesusahan yang saya alami memberi pemahaman kepada saya, bahwa hidup dalam Tuhan adalah bagaimana kita menyerahkan secara total hidup dan masa depan kita kepada Tuhan; bukan apa yang kita mau, tetapi apa yang Tuhan rencanakan dalam kehidupan kita. Sekalipun kedukaan dan kesusahan terjadi di hidup saya dan keluarga (abang dan kakak), yang harus mencari biaya untuk pengobatan paru-paru yang tidak murah dan juga dana kuliah, ternyata Tuhan mengadakan dengan cukup, tidak kurang dan tidak lebih. Ada begitu banyak cara Tuhan untuk memelihara kehidupan anak-anak-Nya.

Menjelang selesai masa kuliah, satu permohonan saya kepada Tuhan adalah agar setelah lulus bisa langsung mendapat pekerjaan, sehingga tidak menganggur. Dan, Tuhan mengabulkannya. Dia memberikan pekerjaan tanpa harus ada masa menganggur, pekerjaan yang membawa saya untuk terbang dan berpindah-pindah tempat di Jakarta, Batam, Balikpapan, dan Medan.

Menjadi alumni Kristen yang bekerja di dunia profesi tidaklah semudah yang saya bayangkan pada awalnya. Tekanan dan persaingan di tempat kerja membuat saya menjadi down, apalagi berada jauh dari Medan dan dari teman-teman serta kakak KTB di PSKM. Tidak ada tempat sharing dan berbagi keluh kesah.

Kegagalan terjadi karena adanya kompromi terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Kompromi yang sering terjadi adalah kompromi untuk tidak bersaat teduh dan berdoa setiap hari, baik karena kelelahan maupun keterbatasan waktu. Kompromi dimulai dari hal-hal kecil, yang berlanjut kompromi untuk tidak hidup benar dan hidup jauh dari Tuhan, dan hal yang paling parah terjadi dalam hidup saya sebagai alumni, adalah mulai bergesernya nilai-nilai kehidupan dan pemahaman saya. Bukan lagi Tuhan yang berkuasa dan memiliki hidup saya, tetapi sayalah yang menentukan apa dan bagaimana hidup saya. Pergeseran nilai-nilai hidup menjadikan diri saya bagaikan sesuatu, padahal kosong. Looks like something, but actually nothing.

Kita adalah manusia, bukan robot yang hidup dengan perintah. Hidup kita adalah pilihan, dan Tuhan mau supaya kita memilih untuk hidup taat kepadaNya. Ketaatan kepada Tuhan dimulai dari hal yang paling dasar namun sederhana yaitu HPDT (Hubungan Pribadi Dengan Tuhan). Dengan memilih untuk bergaul dekat dengan Tuhan, kita memilih untuk menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan memilih bergaul dekat dengan Tuhan, kita memilih Tuhan untuk berkuasa dan memimpin hidup kita. Hal inilah yang menolong saya untuk bangkit dari kegagalan hidup rohani di awal memasuki dunia alumni. Persekutuan pribadi dengan Tuhan menjadi masa-masa untuk diajar waktu demi waktu, selangkah demi selangkah, untuk semakin mengenal Tuhan. Dan persekutuan pribadi dengan Tuhan lah yang menolong saya terus memohon kepada Tuhan agar diberikan hati dan dijaga untuk dapat mencintai dan mengasihi Tuhan lebih dari apapun.

 

*Dituliskan oleh Iwan Petrus Ruben H. Sipahutar, S.P.
**Diterbitkan dari Perkantas News Edisi I, Tahun 2015