Bintang Junita Siagian:
Menjadi Toleran di Alam Kemerdekaan

Bulan Agustus tahun ini, bangsa Indonesia yang tercinta genap memperingati tahun ke-70 kemerdekaannya dari penjajahan. Syukur kepada Allah, karena bangsa kita sudah dimerdekakan dari belenggu penjajahan, yang menjadikannya bangsa yang mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri.

Selama tujuh dekade kemerdekaan ini, kita melihat dan merasakan banyak kemajuan serta peningkatan taraf hidup bangsa kita, juga bertambahnya peran serta bangsa kita dalam pergumulan bangsa-bangsa di dunia, meskipun dalam hal yang sangat esensi, banyak saudara kita yang belum sungguh-sungguh mendapatkan kemerdekaannya, yang antara lain disebabkan oleh kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan karena merajalelanya korupsi di negara ini. Korupsi telah “merebut” kemerdekaan mereka dari hak hidup layak dan hak mendapat pendidikan yang layak. Tentu saja, ini menjadi “perjuangan” bangsa kita yang harus terus diperjuangkan bersama, agar bangsa kita benar-benar menikmati kemerdekaannya.

Selain masalah kemiskinan dan taraf pendidikan, konflik horizontal juga masih menjadi pergumulan bangsa kita saat ini, sehingga sebagian warga negara kita belum menikmati kemerdekaan yang dicita-citakan. Konflik yang pada umumnya bersumber pada konflik SARA ini masih menjadi PR kita bersama. Di banyak tempat di wilayah NKRI, sepertinya hukum rimba masih berlaku: yang kuat yang akan menang. Dalam keberagaman agama dan kelompok suku di Indonesia ini, jika setiap kita tidak sungguh-sungguh memegang teguh rasa toleransi antar umat dan kelompok, konflik akan mudah pecah.

 

Toleransi menurut firman Tuhan

Namun, toleransi seperti apa yang kita perlu pegang teguh dan terapkan sebagai umat percaya? Saya diingatkan pada bagian firman Tuhan dalam Roma 12:18, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang,” kemudian Ibrani 12:14, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang…,” dan Efesus 4:3 (BIS), “Berusahalah sungguh-sungguh untuk hidup dengan damai.”

Kita melihat, bahwa hidup dalam damai dan bersungguh-sungguh mengusahakannya, yang merupakan semangat dari toleransi, adalah perintah Tuhan bagi kita. Selain itu, mengupayakan apa yang baik bagi semua orang adalah juga bagian dari toleransi kita terhadap umat dan kelompok lain, sebagaimana tertulis dalam beberapa ayat berikut:

  • Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Mat 5:16);
  • Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman (Gal 6:10, ITB);
  • Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang (1Tes 5:15, ITB).

 

Di dalam sikap toleransi kita kepada sesama kita yang berbeda, kita berharap tercipta kedamaian dan hidup yang memuliakan Bapa kita yang di sorga.

 

Teladan toleransi Kristus

Namun, toleransi yang Tuhan mau untuk kita kerjakan dalam hidup yang majemuk ini bisa kita salah mengerti atau bahkan menjadi pijakan bagi kita untuk berhenti mengerjakan Amanat Agung Tuhan Yesus. Tuhan sungguh-sungguh merindukan kita menjadi anak-anak terang dan pembawa damai, karena dengan itu dunia dapat mengenal Dia yang dapat mendamaikan dunia yang berdosa dengan Bapa di Sorga. Dengan demikian, semangat toleransi kita bukanlah semangat toleransi yang pasif. Jika demi memelihara toleransi sesama, kita menyembunyikan Kabar Baik itu, hal tersebut sebenarnya sedang menjadikan kita lebih mengutamakan “manusia” daripada Allah sendiri, dan tentu saja hal ini tidak sesuai dengan firman Tuhan, misalnya dalam Kolose 1:15: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Seharusnya segala yang diciptakan Allah, termasuk manusia dan segala yang dapat dibuat manusia (dari yang telah diciptakan Allah), tunduk di bawah otoritas dan keutamaan-Nya.

Toleransi seharusnya tidak membuat kita “bisu” dan “takut” mewartakan Kabar Baik dalam kata dan karya (words and works), melainkan sebaliknya, kita mau belajar toleransi dari teladan hidup Kristus sendiri. Lihatlah betapa tolerannya Yesus, sehingga orang-orang berdosa dan pemungut cukai merasa nyaman berbicara, bergaul, dan makan (sebagai tanda persekutuan) dengan Kristus yang suci itu (lih. Mat 9:10). Sikap toleran yang benar seperti Yesus semata-mata didorong oleh kasih-Nya kepada orang berdosa, dan karena kasih-Nya yang besar itu, Ia memberikan hidup-Nya bagi dunia yang berdosa, supaya olehNya, dunia mendapat pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

Dasar inilah yang juga seharusnya mendorong kita mengupayakan toleransi dengan sesama kita. Kita memiliki kasih yang inklusif dan kebenaran yang eksklusif (inclusive love and exclusive truth), dan ini seperti kedua sisi dalam mata uang logam. Kita membawa ini ke tengah-tengah dunia, dan dunia sungguh-sungguh membutuhkan kedua hal ini: the love and the truth of God.

Selamat memperjuangkan toleransi sejati di alam kemerdekaan Republik Indonesia yang beranekaragam dan kita cintai ini. Kiranya Tuhan menolong kita.