Victor Kurniawan Pujianto:
Iman Kristen dan Kemiskinan

“As long as poverty, injustice and gross inequality persist in our world, none of us can truly rest.”
Nelson Mandela, 2005

Badan pusat stastistik (BPS) menyatakan bahwa indeks kemiskinan di Indonesia semakin dalam dan parah selama periode September 2016-Maret 2017. Indeks kedalaman kemiskinan pada Maret 2017 mencapai 1,83 naik dari September 2016 yang hanya 1,74. Data ini menunjukkan kemiskinan masih menjadi pergulatan bangsa ini. BPS juga mencatat juga bahwa total penduduk miskin Indonesia mencapai 27,77 juta pada Maret 2017[1].

Di tengah kondisi demikian, bagaimana sikap kita sebagai murid-murid Yesus yang hidup di tengah situasi kemiskinan Indonesia? Kita perlu memikirkan hal ini, sebab kita bukanlah tamu di negeri ini, bukanlah pelengkap penderita, tetapi kita adalah bagian dari warga negara Indonesia yang wajib menjadi bagian dari pembangunan bangsa ini. Selain itu, kita adalah murid Yesus, yang bukan ditarik keluar dari dunia ini, tetapi diutus untuk masuk ke dalam dunia (lih. Yohanes 17:18).

Alkitab dan Kemiskinan
Kekristenan sering dikaitkan dengan ketidakpedulian terhadap dunia sekitar, termasuk tentang kemiskinan. Agama Kristen adalah tentang penekanan pada rasa berdosa, cenderung tidak toleran, dan melarikan diri pada kenyataan[2]. Anggapan ini terasa pedas menyindir kekristenan. Namun, patut direnungkan: apakah kita memang demikian?

Di dalam Alkitab, kita akan menemukan bagian-bagian di dalam Alkitab yang menunjukkan kepedulian Tuhan terhadap ketidakadilan dan kemiskinan. Sebuah penelitian Alkitab yang difokuskan pada bagian-bagian Perjanjian Lama membuktikan hal tersebut. Paling tidak, ada 200 kali serangkaian kata untuk kemiskinan muncul dalam Perjanjian Lama. Namun, rangkaian kata kemiskinan ini memiliki perbedaan-perbedaan prinsip di dalamnya.

Pertama, ditinjau dari segi ekonomi, orang yang miskin karena ketiadaan materi, yakni mereka yang tidak mampu memenuhi segala kebutuhan dasarnya. Kedua, orang yang miskin dari segi sosial, yakni orang yang miskin karena penindasan. Ketiga, ditinjau dari segi kerohanian, yakni orang yang rendah hati, yang sadar akan ketidakberdayaannya, dan hanya berharap kepada Tuhan[3]. Di dalam ketiganya, Tuhan selalu hadir sebagai pembela, hadir di tengah-tengah mereka dan menjadi penolong bagi mereka.

Di dalam Perjanjian Baru, Yesus juga membawa pesan kepedulian kepada yang miskin, tertindas, dan lemah. Dalam inaugurasi pelayananya di dalam Lukas 4:18-19, dikatakan demikian,

“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”

Secara gamblang Yesus mengungkapkan tujuan kedatangan-Nya ke tengah dunia. Berita yang Ia bawa tidak hanya menekankan masalah spiritual semata, tetapi juga masalah-masalah publik yang nyata, yaitu kemiskinan, ketertindasan, dan kelemahan. Bagi orang-orang pada zaman Yesus, berita ini terasa menyejukkan. Pada masa itu, kondisi ekonomi sangatlah suram. Hanya sebagian kecil dari kelompok sosial atas di Yerusalem dan tuan-tuan tanah di Galilea yang menikmati kemakmuran, sedangkan mayoritas masyarakat yang hidup pada masa Yesus hidup dengan pendapatan yang minim. Kondisi ini masih ditambah dengan penjajahan Roma dan pajak yang sangat tinggi.

Yesus tidak hanya memproklamasikan kepedulian, tetapi Ia bertindak nyata. Yesus memiliki kebiasaan selalu mendekati orang-orang yang dianggap tidak layak pada zamannya. Perkataannya dan tindakannya menarik orang-orang yang miskin dan tertindas untuk datang kepadaNya (Lih. Matius 8-9).[4]

Mengikuti Teladan Ilahi
Alkitab jelas menunjukkan kepedulian dan kehadiran Tuhan bagi yang miskin, lemah dan tertindas, sehingga hal ini juga seharusnya menjadi menjadi perhatian kita sebagai murid-murid-Nya. Bagaimana caranya? Pertama, beritakan kabar baik tentang Tuhan dan kepeduliaan-Nya secara radikal. Tidak hanya di ruang-ruang ibadah, melainkan juga di ruang publik; tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata.

Kedua, di tengah keadaan bangsa kita yang sepertiga penduduknya hidup dalam kemiskinan, ketertindasan, dan kelemahan, kita perlu memiliki gaya hidup yang sederhana. Hidup sederhana memberikan sumber daya untuk pertolongan yang lebih banyak kepada yang membutuhkan.

Ketiga, para murid Kristus haruslah berada di garis depan peperangan melawan kemiskinan. Panggilan orang percaya adalah sebagai terang dunia, yang menyingkirkan kegelapan—salah satu bentuknya: kemiskinan. Perintah Tuhan melalui nabi Yeremia bagi bangsa pilihan-Nya di pembuangan pun jelas: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Umat Tuhan dituntut untuk berperan aktif dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat, dan masyarakat yang sejahtera sudah pasti masyarakat yang terbebas dari belenggu kemiskinan.

Penulis adalah staf mahasiswa Perkantas Malang

======================================
[1] Yoga Sukmana,”Kemiskinan Makin Dalam dan Kian Parah”, Kompas. Com, diakses dari http://ekonomi.kompas.com/read/2017/07/17/195907926/kemiskinan-makin-dalam-dan-kian-parah-, pada tanggal 26 Oktober 2017.
[2] Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan (Ed), Sekali Lagi : Buku Pesta dan Cintas dia Alam bangsanya, Jakarta: Gramedia, 2009
[3] John Stott, Isu-Isu Global: Menantang Kepemimpinan Kristiani. Jakarta: YKBK, 1984.
[4] Mark Labberton, Bahaya Ibadah Sejati, Surabaya: Literatur Perkantas Jatim, 2011.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »