Noertjahja Nugraha:
Dikhususkan Bagi Tuhan

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (I Petrus 2 : 9)

Kata “Elite” secara sederhana mengacu pada bagian khusus, selektif, atau terpilih dari suatu kesatuan yang lebih besar. Kaum elite diasosiasikan sebagai bagian penting dari suatu organisasi yang menentukan maju mundurnya organisasi tersebut. Mereka dianggap sebagai “think tank”, atau kelompok pemikir yang membuat konsep dan kebijaksanaan organisasi. Mahasiswa dan alumni juga dianggap sebagai kaum elite, karena tidak semua orang berkesempatan untuk menikmati pendidikan tertier seperti mereka.

Akan tetapi, belakangan ini kita lebih menangkap asosiasi istilah “elite” untuk mereka yang kelompoknya masih sama, seperti anggota DPR, dewan pembina partai politik, atau manajemen atas suatu perusahaan, yang seakan tidak peduli dengan apa yang menjadi permasalahan orang banyak, rakyat kecil, atau pegawai rendahan. Tidak heran, banyak orang akhirnya mencibir kaum elite ini sebagai kaum yang tak tersentuh (untouchable) dan tak terjangkau (unreachable).

Bangsa yang terpilih
Lalu bagaimana dengan orang Kristen sendiri? Dalam kutipan ayat Alkitab di atas, kita masuk sebagai bangsa terpilih atau bangsa elite. Ide bangsa terpilih atau pilihan ini mengacu pada Keluaran 19:5-6, di mana bangsa Israel menjadi bangsa pilihan Allah: “Jadi sekarang, jika mau sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Dalam perjanjian dengan bangsa Israel, Allah menawarkan hubungan khusus dengan diri-Nya, namun hal ini bergantung pada apakah mereka menerima syarat dari perjanjian itu dan menjaga hukum-hukum-Nya.

Dari hal ini, kita tahu bahwa orang Kristen terpilih karena tiga alasan : 1. Ia terpilih karena adanya hak khusus. Dalam Yesus Kristus, ditawarkan kepadanya hubungan baru dan intim dengan Allah. Hanya di dalam dan karena Tuhan Yesus, orang diselamatkan dan masuk ke dalam jajaran bangsa elite pilihan Allah; 2. Ia terpilih karena ketaatan. Hak khusus membawanya pada tanggung jawab. Memang benar bahwa ketika seseorang sudah diselamatkan dalam Yesus maka ia masuk dalam bangsa pilihan, namun sebagai anggota dari bangsa pilihan, ia harus menaati aturan-aturan Allah. Memang, ia bukan lantas tidak selamat kalau tidak taat, namun ia menjadi yang terkecil di antara yang diselamatkan (band. 1 Korintus 3:10-23); 3. Ia terpilih untuk melayani. Kebanggaannya adalah ia dapat menjadi pelayan Allah. Hak khususnya adalah dijadikan sebagai alat untuk maksud Allah sepanjang hidupnya.

Imamat yang rajani
Orang Kristen merupakan kaum elite juga karena ia dipanggil sebagai imamat yang rajani. Sebagai imam, orang Kristen mempunyai akses langsung kepada Allah, selain bisa membawa orang lain kepada Allah. Dalam tradisi Yahudi, hanya imamlah yang bisa membawa korban persembahan orang-orang kepada Allah untuk penebusan dosa mereka. Namun sejak orang Kristen diselamatkan oleh Yesus, hubungannya dengan Allah sudah dipulihkan dan ia mempunyai hak akses khusus kepada Allah. Hubungan seperti ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak berada dalam Kristus. Sebagai imam, orang Kristen harus mempersembahkan karyanya, penyembahannya dan bahkan dirinya sendiri kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan. Itulah ibadahnya yang sejati (Roma 12:1).

Bangsa yang kudus
Sebutan elite ketiga dari orang Kristen adalah bangsa yang kudus. Di dalam bahasa Yunani, kudus adalah “hagios”, yang berarti berbeda. Orang Kristen terpanggil untuk berbeda dari yang lain, karena ia didedikasikan untuk kehendak Allah dan pelayanan Allah. Orang-orang lain mungkin mengikuti standar dunia, namun orang Kristen harus mengikuti standar Allah. Menjadi berbeda bukan berarti harus menjadi aneh dan mengisolir diri, namun ketika hidup di dunia ini, orang Kristen harus lebih mengutamakan nilai atau standar Allah dalam hidupnya. Orang Kristen harus berani tampil berbeda dengan tidak ikut-ikutan korupsi, memfitnah, atau mendepak orang lain, meskipun akan dicemooh sebagai kuno, aneh, konyol, bodoh, dan disingkirkan atau dijauhi. Itulah konsekuensi dan harga yang harus dibayar sebagai orang Kristen karena dia adalah anak Allah, dan bukan anak dunia.

Umat kepunyaan Allah
Sebutan elite keempat dari orang Kristen adalah umat kepunyaan Allah sendiri. Sebagai orang Kristen, ia adalah milik Allah yang Maha Besar dan akibatnya ia memiliki nilai baru karenanya. Sebuah pena biasa menjadi bernilai luar biasa karena misalnya ia menjadi milik presiden Soekarno. Ketika dilelang, pena ini akan menjadi mahal karena dimiliki presiden Soekarno. Jadi setelah orang Kristen dimiliki Allah, dari orang yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa karenanya.

Tugas yang elite
Hal lain yang tidak kalah penting sebagai kaum elite karena menjadi milik Allah, yaitu berkaitan dengan tugas-tugas yang elite juga. Setelah menjadi kaum elite, ia tidak boleh menjadi eksklusif dan melupakan orang-orang di sekitarnya, namun bertugas untuk memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah, yang telah memanggil orang Kristen keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Pendek kata, ia harus menceritakan kepada orang-orang di luar Tuhan akan kabar gembira Injil penyelamatan Tuhan Yesus Kristus yang mempersatukan Allah Bapa dengan umat-Nya. Bak penjaga, ia wajib mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk bahaya yang akan terjadi jika tidak percaya. Kalau tidak, ia akan dianggap lalai dan akan menerima sanksi. Tugas ini tentunya tidak bisa diemban oleh orang-orang yang belum menikmati keselamatan dari Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita patut berbangga karena menjadi kaum elite Allah dan memiliki akses langsung kepadaNya. Namun, kita harus menjadi alat bagi Allah yang rela dipakai sesuai kehendak-Nya, rela taat dan berbeda karena memakai standar Allah dan bukan standar dunia, dan mempunyai tugas untuk memberitakan kabar baik keselamatan. Kiranya Perkantas terus konsisten dalam panggilan atau “misi elite”nya untuk menyuarakan kebenaran dengan standar Allah di tengah dunia yang gelap ini. Amin.


Ditulis oleh Bp. Noertjahja Nugraha (Pengurus BPN Perkantas)