Melangkah Dalam Ketaatan, Menabur Benih Di Luwuk

Pelayanan PHN: Kak Anthon Bersama BOARD Sulawesi Tengah

Pada 20–24 Agustus 2026, kami melakukan perjalanan pelayanan dari Palu menuju Luwuk. Perjalanan dimulai sejak pagi buta karena jadwal penerbangan dimajukan oleh maskapai. Kami terbang dari Palu pukul 05.50, transit sekitar lima jam di Makassar, dan tiba di Palu pukul 14.30 waktu setempat. Setibanya di Palu, dua rekan staf menjemput kami menuju Rumah Persekutuan Perkantas Palu. Di sana, kami menikmati makan bersama sebelum melanjutkan pembicaraan mengenai kehadiran Anisa, staf yang akan memulai pelayanan di Luwuk dan telah menyelesaikan masa pembinaannya. Diskusi berlanjut dengan hangat, membahas rencana pengembangan kerja sama antara Luwuk, Perkantas Sulteng, dan Perkantas Jatim.

Malam harinya, setelah menikmati persekutuan bersama staf dan BPC Sulteng, kami melanjutkan perjalanan darat menuju Luwuk menggunakan mobil sewaan, ditemani Arie, pengurus Tim Perintisan Perkantas Luwuk (TP3). Perjalanan ini menjadi pengalaman tersendiri karena kami melewati rute yang baru pertama kali dilalui. Kami berangkat dari Palu sekitar pukul 21.00 dan tiba di Rumah Persekutuan Luwuk sekitar pukul 12.30 dini hari. Meski perjalanan panjang dan melelahkan, sambutan hangat dari Yitran dan Sharon menjadi penguatan tersendiri.

Sore harinya, kami langsung melayani pembinaan bagi mahasiswa dan pemuda gereja melalui tema “Amanat Agung.” Keesokan harinya, seluruh komponen pelayanan—staf, TP3, alumni, dan anak-anak binaan—berkumpul untuk fellowship dan makan bersama, kemudian menikmati rekreasi sederhana di air terjun dekat Kota Luwuk.

Sorenya, pembinaan alumni dilakukan dengan tema “Total Obedience.” Melalui kehidupan Abraham, kami belajar tentang ketaatan yang lahir dari kesediaan merespons panggilan Tuhan. Pesan ini sekaligus menjadi tantangan bagi para alumni untuk tetap setia menjalani panggilan perintisan di Luwuk melalui berbagai peran: melayani, mendukung, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Kami juga berkesempatan melayani kebaktian Minggu di salah satu gereja lokal di Luwuk. Pelayanan ini menjadi ruang untuk membangun dan mempererat relasi antara Perkantas dan gereja setempat. Pada malam harinya, kami bertemu dengan para alumni pendukung, Anisa, TP3, dan staf untuk membicarakan keberlanjutan dukungan bagi pelayanan Anisa serta beberapa hal terkait pengadaan Rumah Persekutuan.

Perjalanan ditutup dengan sharing dan doa bersama sebelum kami kembali ke Surabaya. Dalam perjalanan, kami sempat singgah di Bunta dan bertemu dengan dua keluarga alumni, keluarga Bu Eny dan keluarga Robert. Kami bersyukur melihat sukacita mereka untuk terus bertumbuh dan setia membina siswa-siswa di tengah berbagai keterbatasan.

Perjalanan ini mengingatkan kami bahwa pekerjaan Tuhan tidak selalu dimulai dari tempat yang besar atau dengan sumber daya yang berlimpah. Sering kali, pelayanan bertumbuh melalui kesediaan beberapa orang untuk melangkah, setia, dan saling menopang. Di Luwuk, kami melihat bagaimana pelayanan terus digerakkan oleh alumni yang setia mendukung dan membina generasi muda.

Kiranya setiap benih yang telah ditaburkan melalui perjalanan, persekutuan, pembinaan, dan pelayanan ini terus bertumbuh dan berbuah bagi Kristus. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Dia.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »