dr. Indah Puji Handayani:
Melayani Kaum Lanjut Usia

Seperti lilin natal yang dinyalakan dari satu jemaat ke jemaat yang lain, demikian pula pengalaman dokter Indah Puji Handayani dalam mengenal Tuhan. Pada waktu dihubungi Perkantas News melalui telepon, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Solo ini mengisahkan bagaimana ia pertama kali mengenal Kristus secara pribadi. Berawal dari kakak pertamanya yang bertobat dan ditolong oleh pelayanan Perkantas Solo, Tuhan menaruhkan hati yang terbeban untuk menceritakan Kabar Baik kepada adik-adiknya.

 

Mengenal Kristus dari kakak pertama

Waktu bertobat, anak ke-6 dari 7 bersaudara ini masih kelas 3 SD. Istri dari Johanes Panji Panca Poetra, S.T. ini menceritakan bagaimana ia merasakan ketakutan yang sangat besar terhadap kematian, sampai-sampai tidak bisa tidur. Di masa-masa ketakutan itu, kakak pertamanya menceritakan mengenai Tuhan Yesus yang menanggung dosa manusia.  Berita Injil itu sangat membekas di hatinya, sehingga di malam harinya, ia berdoa sendiri di kamarnya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Kelegaan dan sukacita memenuhi hatinya setelah itu. Di dalam hatinya pun tumbuh semangat untuk membaca Alkitab dan menceritakan Kabar Baik itu kepada teman-teman di sekolah.

Pengagum dokter Hudson Taylor, David Livingstone, Corrie ten Boom, dan Bunda Teresa ini mulai ditolong untuk bertumbuh secara lebih sistematis melalui KTB pada waktu bersekolah di SMA 3 Solo. Ia kemudian terjun ke pelayanan siswa hingga memasuki dunia kerja pada tahun 2005.

 

Menapaki pelayanan lansia

Setelah lulus dan mulai bekerja di ICU RS dr. Oen Solobaru dan praktik pribadi di sebuah klinik, penyuka olahraga renang dan bersepeda ini mulai banyak bertemu dan berinteraksi dengan pasien yang kebanyakan berusia lanjut. Melalui pembelajaran FT bersama kelompok KTBnya, beberapa bacaan (salah satunya, buku “Purpose Driven Life” oleh Rick Warren) dan perenungan-perenungannya, dokter Indah pun semakin diyakinkan untuk melayani kaum lanjut usia dan memberitakan Injil kepada mereka. Tuhan juga mempertemukannya dengan beberapa teman yang memiliki kerinduan serupa. Pada waktu itu, Perkantas Solo telah merintis Pelayanan Masyarakat. Pelayanan mereka pun akhirnya digabungkan dengan Pelmas tersebut dan bernaung di bawah pelayanan Perkantas Solo.

Saat ini, pelayanan kaum lansia yang persekutuan perdananya dilaksanakan pada tahun 2007 ini melayani tak kurang dari 70 lansia, dengan rata-rata kehadiran 50 orang dalam persekutuan bulanannya. Menurut dokter yang saat ini bekerja di Tiphara Biocosmetic Aesthetic and Anti Aging Clinic dan  praktek pribadi di rumah ini, yang unik dari pelayanan lanjut usia ini, antara lain: waktu hidup yang dijalani oleh kaum usia lanjut yang tentu sudah jauh lebih panjang, membuat permasalahan yang dihadapi mereka rata-rata kompleks dan dampaknya cukup besar bagi keluarga. Kaum usia lanjut yang baru saja menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat juga memiliki waktu yang lebih sedikit untuk belajar FT, apalagi mereka yang percaya pada saat akhir hidup mereka dan dalam kondisi sakit keras. Sangat berbeda dengan kondisi pelayanan siswa yang pernah dijalaninya.

Without personal relationship with Him (God), I have no story to tell” merupakan kutipan favorit dari mahasiswi Pascasarjana Ilmu Gizi UNS ini. Ia memaknai ayat pegangannya dari Lukas 6:20 yang berbunyi, “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” sebagai pendorong untuk melakukan penyerahan diri sehingga tak memiliki apapun yang cukup berharga kecuali Yesus.

Penyuka minuman jahe-jeruk-kencur di warung wedangan depan rumah dan makan Selat Solo ini merindukan rekan-rekan baru untuk terlibat intens di dalam pelayanan yang unik tersebut. Syaratnya cukup sederhana, yakni hanya membutuhkan hati yang mau mendengar dan melayani kaum lanjut usia. (ays)

 

 *Dituliskan oleh dr. Indah Puji Handayani
**Diterbitkan dari Perkantas News Tahun XVI | Edisi Desember2013-Februari 2014