Julio Kristano:
 “Urip Menyang Donya Mung Mampir Ngombe”

admin/ September 24, 2014/ Renungan

Judul di atas merupakan ungkapan Jawa, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia maknanya adalah bahwa “hidup di dunia hanya untuk singgah minum saja”. Tetapi, ungkapan ini bisa dibalik dengan “ngombe wae saakehe, merga nang donya mung mampir”, yang berarti “minum sebanyak-banyaknya, karena hidup di dunia hanya sebentar”.

Kehidupan manusia nampaknya tidak bisa dilepaskan dengan apa yang bisa dihasilkan dalam waktu dan ruang yang terbatas. Manusia dengan segala daya, potensi, dan kekuatan, bisa mengerjakan sesuatu yang dari kecil untuk menghasilkan karya yang besar.

Tokoh-tokoh dunia yang sudah memberikan kontribusinya bagi sejarah dunia, memulai karyanya yang bersejarah dengan sangat sederhana. Seorang Soichiro Honda, meski tidak sempat mengenyam pendidikan formal dan tidak memiliki prestasi di sekolah, namun berhasil menciptakan sepeda dengan mesin bekas perang sehingga t e r c i p t a sepeda motor. Yohanes Surya, yang s e j a k anak-anak sudah membantu ibunya berjualan kue dan untuk itu harus bangun jam tiga pagi, dan d a r i kerja keras itu maka saat ini menjadi Profesor Fisika yang melahirkan juara Olimpiade Fisika Internasional.

Mereka menyadari bahwa hidup di dunia ini dibatasi oleh waktu, sehingga dengan sedikitnya waktu, mereka berupaya untuk menghas i lkan suatu karya yang berdampak besar dan bisa menghasilkan kehidupan yang baik untuk jangka panjang.

Bekerja selagi siang

Dalam Yohanes 9:4 tertulis, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yesus bersabda bahwa waktu kerja kita hanya siang, tidak ada waktu lain. Konteks ayat ini adalah pada waktu orang yang buta sejak lahir dan disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Orang-orang bertanya, dosa siapakah yang membuat orang ini buta. Permasalahannya adalah, orang ini buta dan kemuliaan Tuhan harus dinyatakan. Yesus datang ke dunia diutus Bapa dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Bapa. Dia tahu bahwa waktunya tidak panjang. Yang Dia lakukan sepanjang hidupnya adalah mengerjakan pekerjaan Bapa.

Sudah berapa lama kita hidup melayani Tuhan dan nama Tuhan dipermuliakan? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, tetapi yang kita harus tahu bahwa hidup ini hanya sebentar. Tidak banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memperkenan hati Tuhan. Saya pun menyadari bahwa masih banyak pelayanan yang belum dikerjakan, masih banyak yang tertunda dan masih banyak yang belum selesai. Mengingat perkataan Pengkhotbah, “ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.”, semua dikatakan “ada waktu”, berarti ada di dalam waktu. Jika masih di dalam waktu, maka kita masih bisa bekerja dan menghasilkan karya yang besar dan berbobot. Tetapi, apakah kita menyadari hal ini?

Kerjakan segera selagi hari masih siang, karena akan datang malam dan tidak ada seorangpun akan bisa bekerja. Yang belum baik, upayakan untuk diperbaiki agar bisa jadi lebih baik. Yang masih kurang, tambahkan lagi agar cukup. Yang belum dikerjakan, tuntaskan segera agar selesai dan ada sesuatu yang dihasilkan. Karena hidup di dunia ini hanya mampir, bukan selama-lamanya. Berkaryalah sebanyak mungkin untuk kebaikan orang lain.

 

*Penulis adalah Julio Kristano Pimpinan Cabang Perkantas DIY
**Dituliskan dari Perkantas News Tahun XVI Edisi September-Nopember 2013