Philip Ayus:
Spiritualitas Merek Dagang

admin/ April 1, 2014/ Renungan

Sukacita Yohanes dan kawan-kawan karena telah berhasil melakukan berbagai mujizat di dalam nama Yesus (Markus 6:13) segera berubah menjadi kemarahan yang meledak-ledak, karena di suatu kesempatan mereka mendapati ada “orang luar”, yakni orang yang bukan pengikut Yesus, ternyata berhasil pula mengusir setan hanya dengan menyebut nama-Nya. Layaknya perusahaan yang “kebakaran jenggot” setelah mendapati adanya pelanggaran hak cipta, mereka pun menggugat orang itu agar berhenti melakukan “praktek ilegal” tersebut.

Sebagai orang dalam, mereka merasa perlu menjadi pembela ajaran dan pelindung komunitas yang sejati. Yohanes pun dengan nada yang sedikit bangga menceritakan kejadian itu kepada Sang Guru. Yohanes mengira, Yesus akan memujinya karena telah berhasil menemukan “kebocoran” ataupun “pelanggaran hak cipta” atas nama Sang Guru. Akan tetapi, respon Yesus ternyata jauh dari yang diharapkan. Bukannya memuji, Sang Guru Agung tersebut justru menyayangkan tindakan para murid yang dimaksudkan untuk menjaga otensitas ataupun jati diri komunitas mereka tersebut.

Padahal, itu adalah tujuan yang baik menurut pandangan mereka. Di masa itu, komunitas rohani yang identik dengan pemimpin atau ideologi yang diusung bukanlah hal yang janggal. Setidaknya ada empat komunitas rohani yang besar pada waktu itu, yakni Zelot, Saduki, Farisi, dan Esene, yang masing-masing memiliki tujuan maupun karakteristik tersendiri. Rombongan Yesus bisa diperhitungkan sebagai sebuah komunitas tersendiri, dengan Yesus sebagai identitas kelompok. Oleh karenanya, wajar saja jika para murid merasa perlu menarik batas untuk melindungi jatidiri kelompok mereka.

Namun, mereka tidak menyadari bahwa Yesus bukan hanya datang untuk membentuk komunitas yang eksklusif. Putra Tunggal Allah itu dikaruniakan karena kasih Allah kepada dunia, bukan hanya kepada segelintir orang saja. Mereka mengikuti seorang Pribadi yang revolusioner, yang mendobrak segala batas dan tradisi, yang mengembalikan syariat atau aturan-aturan agamawi kepada hakekat. Hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia yang diciptakan untuk hari Sabat. Bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan seseorang, melainkan apa yang keluar dari mulutKarya dan pengajaran Sang Guru itu boleh dibilang “out of the box”, namun ironisnya, mereka membuat “kotak” yang baru untuk karya dan pengajaran yang revolusioner itu!

 

Bersaudara di dalam Kristus

Yang menyedihkan, “spiritualitas merek dagang” itupun menjangkiti kekristenan hingga kini. Salah satu ironi yang nyata adalah, setelah terpecah-pecah ke dalam “merek-merek dagang” masing-masing, sebagian komunitas berupaya untuk membuat “kongsi-kongsi” rohani, bersatu dalam kesamaan-kesamaan tertentu, mulai dari kesamaan etnis hingga kesamaan aliran. Roh Kudus hanya diklaim sebagai “hak milik” komunitas-komunitas tertentu. Masing-masing merasa memiliki hak monopoli atas kebenaran, atas otensitas, atas kesejatian.

Masing-masing mengaku sebagai komunitas surgawi yang terbuka dan toleran terhadap perbedaan, namun tak ada kesatuan yang sungguh-sungguh terjadi. Kita seolah-olah berada dalam satu komplek perumahan megah namun tidak mengenal satu sama lain meski tembok-tembok rumah saling berdekatan bahkan menempel. Sungguh berbeda dengan rumah-rumah di desa, yang meskipun jarak antar rumah terpisahkan oleh pelataran yang luas, penduduk saling mengenal satu sama lain. Hal yang wajar, mengingat kebanyakan desa dihuni oleh orang-orang yang masih kerabat, berbeda dengan pola pemukiman kompleks perumahan.

Kita semestinya memiliki konsep pemukiman di desa itu. Kita pada dasarnya adalah bersaudara di dalam Kristus. Di dalam Dia, tak ada lagi orang Yahudi maupun orang Yunani, tak ada lagi budak dan orang merdeka. Semuanya dipersatukan dalam persekutuan Roh Kudus. Namun, kita terjebak pada perikehidupan berpola kompleks perumahan, yang meski mungkin tak berpagar, tak saling peduli satu sama lain. Aktivitas yang dijalani pun akhirnya rentan dengan persaingan dan konflik. Kalau tetangga sebelah membeli mobil model baru, rumah ini tak boleh kalah. Yang terbangun seringkali adalah saling bersaing, bukannya saling berbagi.

 

Menyandera Yesus?

Seiring dengan semangat merek dagang, kita tak merasa cukup dengan hanya memiliki Yesus. Kita ingin sertifikat kepemilikan, bahkan hak cipta kalau perlu. Kita terpenjara dalam inklusivisme yang ekslusif, seolah-olah terbuka padahal sangat tertutup. Kita mengkampanyekan tentang Yesus yang mau–bahkan sengaja–masuk ke semua kalangan dan membanggakan diri sebagai umat yang meneladani Tuhannya, namun di sisi lain menolak orang ataupun komunitas lain yang kita anggap tidak sejalan. Spiritualitas merek dagang membuat aktivitas-aktivitas rohani kita bak aktivitas perdagangan. Dan Tuhan Yesus pun kita “sandera” sebagai merek dagang komunitas kita.

Bertumpuk-tumpuk aktivitas rohani yang kita lakukan dan jadwalkan pada akhirnya hanyalah upaya-upaya kita untuk memperkuat merek dagang kita, untuk membedakan komunitas kita dengan yang lainnya. Jangankan dengan umat agama lain, dengan sesama umat Tuhan saja kita enggan untuk bekerjasama. Kita tak rela ketika ada orang atau komunitas lain yang “mencatut” nama Tuhan, bahkan meskipun untuk hal-hal yang baik. Seperti para murid, kita ingin melakukan segala “mujizat” itu sendiri, karena terlalu yakin bahwa hanya kitalah yang mendapat legitimasi dari Tuhan. Lebih parah lagi, bisa jadi kita lebih suka ada orang yang kerasukan setan daripada ada orang lain yang menyembuhkannya dengan nama Yesus kita!

 

Ia adalah milik semua orang

Akan tetapi, Tuhan Yesus mengingatkan Yohanes dan kawan-kawannya, serta kita juga, bahwa nama dan kuasa-Nya tidak berlaku terbatas. “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku,” itulah pesan Sang Guru kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Markus 9:39-40). Yesus seolah-olah hendak mengingatkan, bahwa Dia bukanlah merek dagang yang bisa dimonopoli komunitas tertentu. Ia adalah milik semua orang.

Mungkin itu sebabnya, Paulus tidak begitu mempermasalahkan motif seseorang ketika memberitakan nama Kristus: “Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita” (Filipi 1:16-18).

Marilah kita memfokuskan diri pada hal-hal yang diperintahkan Yesus bagi kita. Mari kita belajar untuk memiliki spiritualitas yang sejati, bukan sekedar merek dagang. Jangan sampai karena terlalu memperjuangkan identitas komunitas, kita kehilangan arah panggilan kita semula untuk menjadi kepanjangan tangan Tuhan dalam melayani ciptaan-Nya, dan menjadi orang-orang yang kukuh memegang “label” namun kehilangan “botol kecap”-nya. Jangan sampai segala aktivitas rohani yang kita lakukan untuk membela nama Tuhan, justru makin menjauhkan kita dariNya, apalagi jika kita sendiri ditolak Tuhan meskipun kita membuat ribuan mujizat dan nubuat demi nama-Nya (Matius 7:22-23). Tuhan memberkati.

 


– Philip Ayus adalah Staf Divisi Media Perkantas

– Diterbitkan pada majalah Dia edisi 1 tahun 2012