Yustina Manukallo:
Mengalami Kebenaran-Nya

admin/ September 22, 2014/ Renungan

Dari tahun ke tahun, Perkantas sudah banyak berbicara tentang injil, pemuridan, misi dan pengembangan organisasi. Dalam evaluasi, kita mendapati ada perkembangan dan mungkin juga penurunan dari pelayanan ini, baik secara kuantitas, maupun secara kualitas. Rangkaian kegiatan pelayanan ini, kita tidak pernah melupakan dan meninggalkan Firman Tuhan sebagai dasar dari pelayanan ini. “Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan” (Yesaya 56:1). Terberkatilah orang yang melakukan hal-hal ini dan yang berpegang teguh padanya,

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita sampai pada tujuan akhir kita bahwa kita mengalami firman-Nya di dalam setiap hidup kita, percaya kepada Dia yang diutus-Nya?

Dalam rangkaian dialog Yesus dengan orang Yahudi tentang pengutusan-Nya (Yohanes 5:36-43), Yesus berusaha dan membantu mereka untuk mengerti dan menerima kesaksian-Nya. Tidak hanya itu, mereka diajak untuk memasuki dan menceburkan diri ke dalam misteri kasih dan karya Bapa. Karena bagi orang Yahudi, kitab suci adalah segalanya. Orang yang menguasai kata-kata hukum dalam Alkitab adalah orang yang memperoleh hidup kekal. Namun, bagi mereka kesaksian Allah kurang mengena, karena walaupun telah mendengar suara-Nya dan melihat rupa-Nya, mereka tidak pernah mengalaminya.

Satu hal yang jelas ialah bahwa mereka membaca Alkitab secara salah. Mereka membacanya dengan pikiran yang tertutup. Mereka membaca kitab suci bukan untuk mencari Allah, tetapi untuk mencari dukungan bagi pendapat dan posisi mereka sendiri. Mereka sebenarnya tidak mengasihi Allah, melainkan mengasihi pendapat mereka sendiri tentang Allah. Mereka tidak rendah hati untuk belajar theologi dalam kitab suci, sebaliknya mereka memakai kitab suci untuk mempertahankan theologi yang mereka hasilkan sendiri.

Kesalahan yang lebih besar yaitu mereka menganggap Allah telah memberikan wahyu yang tertulis kepada manusia, padahal wahyu Allah adalah wahyu dalam sejarah. Bukan saja Allah berbicara, tetapi Allah juga bertindak. Orang Yahudi menyembah Allah yang hanya menulis ketimbang Allah yang bertindak. Walaupun mereka rajin menyelidiki Kitab-kitab Suci, tetapi tampaknya doa pemazmur, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mazmur 119:18) belum dikabulkan dalam hati mereka.

Mereka belum mengalami apa yang diceritakan dalam Lukas 24:45, yang berkata “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” Mata rohani mereka dibutakan dengan “selubung” yang disebutkan dalam 2 Korintus 3:14-16. Tuhan Yesus menegaskan bahwa iman mutlak diperlukan untuk mengalami kesaksian-kesaksian yang disediakan oleh Allah. Firman Allah, jika dibaca tetapi tidak dipercaya, tidak menetap di dalam diri orang itu, melainkan hilang seperti benih yang jatuh di pinggir jalan dan dimakan burung.

Untuk sampai pada pengertian yang benar tentang Firman dan mengalami kehadiran Allah dalam aspek hidup dan pelayanan ini, dibutuhkan kerendahan hati menyelidiki firman-Nya, kerendahan hati untuk di tegur dan tunduk pada kehendak Tuhan. Seorang sarjana Kristen pernah berkata, “Tidak ada hidup di dalam Kitab-kitab Suci sendiri, tetapi jika kita mengikuti tuntunan Kitab-kitab Suci, kita akan dituntun kepada Dia, dan dengan demikian kita menemui kehidupan, bukan dalam Kitab-kitab Suci, tetapi di dalam Dia, melalui Kitab-kitab Suci.”

 

*Penulis adalah Yuskal,  PC Perkantas NTT
*Diterbitkan dari Perkantas News Edisi IV, Tahun 2012