Yudit Lam, M.Div.:
Memperjuangkan Pelayanan yang Memerdekakan

admin/ Agustus 1, 2016/ Renungan

Saudara-saudara sekalian!
Saya telah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun, kita bangsa Indonesia telah berjuang, untuk kemerdekaan tanah air kita, bahkan telah beratus-ratus tahun!
Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya.


Saudara-saudara!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:
Proklamasi

Kami, bangsa Indonesia ,dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta

Itulah kalimat awal dari pidato proklamasi dan teks proklamasi yang dibacakan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Di awal pidatonya, beliau menjelaskan cara, keadaan, dan waktu berjuang yang telah dilakukan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Meskipun berat dan mengorbankan banyak jiwa, tetaplah perjuangan dilakukan demi cita-cita untuk merdeka, demi terlepasnya bangsa Indonesia dari belenggu penindasan bangsa-bangsa lain.

Pelayanan Perkantas yang dikerjakan selama ini di antara students (siswa dan mahasiswa) dan pendampingan kepada alumni (mereka yang telah mengalami pembinaan di masa siswa dan mahasiswa) juga memiliki cita-cita. Cita-cita atau visi dari pelayanan ini adalah murid Kristus yang menjadi berkat di lingkungannya (keluarga, gereja, bangsa dan negara).

Menolong students mengalami pertobatan sejati
Untuk mencapai visi tersebut, students perlu ditolong untuk mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus Kristus dan mengakui Dia sebagai Tuhan. Perjumpaan secara pribadi ini menyadarkan bahwa mereka adalah orang berdosa yang hidup dalam dunia yang berdosa, sehingga pengampunan dosa dan penyelamatan dari Kristus Yesus dibutuhkan untuk pembebasan dari murka Allah (Yohanes 3: 18, 36; Roma 5: 9) dan mengalami hidup yang merdeka dalam kekudusan (Roma 6: 22). Untuk itulah berita suka cita harus disampaikan kepada mereka (Roma 10:14), agar mereka percaya akan karya penebusan Kristus baginya (1 Yohanes 2:2 – “He himself is the atoning sacrifice for our sin” [versi NET]) dan dimerdekakan dari ikatan belenggu dosa (Roma 8: 1, 2). “Penjajah” yang mencengkeram mereka, sekalipun tidak berlangsung ratusan tahun seperti pengalaman penjajahan bangsa Indonesia, telah merusak citra dan gambar Allah. Jika Kemerdekaan Indonesia adalah “hal yang mahapenting” menurut Presiden Soekarno, apalagi kemerdekaan dari belenggu dosa, tentunya hal yang mahapenting bagi manusia, termasuk mereka. Itu sebabnya, perlu dipastikan bahwa mereka menerima dan mengalami karya salib Kristus, karena hanya Kristus satu-satunya yang sanggup memerdekakan manusia dari belenggu dosa (Roma 5: 6-8). Bagaimana memastikannya? Mengakui dengan mulut dan percaya di hati (Roma 10: 9-10). Salah satu cara praktis bisa meminta mereka yang bertobat untuk menuliskan kesaksian pertobatannya atau memberikan kesaksian pertobatannya dalam persekutuan orang percaya (dalam Kelompok Kecil atau Kelompok Besar), sehingga dapat diketahui apakah benar-benar bertobat dan menerima Yesus secara pribadi.

Pertobatan merupakan dasar utama untuk mengalami kemerdekaan bagian-bagian hidup yang lain yang selama ini dikuasai oleh dosa, misalnya: nilai-nilai hidup. Nilai-nilai hidup biasanya mulai diperkenalkan oleh orang tua kepada anaknya pada usia yang sangat dini. Sebagai contoh, anak diajarkan untuk memberi salam kepada orang lain, baik saat bertemu ataupun berpisah, diajarkan untuk bersedia meminjamkan mainannya kepada teman sepermainan, diajarkan berdoa sebelum makan dan sebelum tidur, mengucapkan terima kasih saat menerima sesuatu dari orang lain, bersabar dan tidak menangis saat menunggu untuk mendapatkan apa yang diinginkan, dsb. Seiring dengan pertambahan usia, bertambah banyak nilai hidup yang didapatkan. Ada banyak nilai hidup yang waktu diajarkan terbalut oleh pola hidup yang dipertontonkan atau dilakukan. Jika nilai hidup yang diajarkan tidak berdasarkan kebenaran, maka cenderung menghasilkan pola hidup yang duniawi. Nilai-nilai dan pola hidup yang sudah dihidupi selama lebih dari 10 tahun (usia siswa dan mahasiswa lebih dari 10 tahun) inilah yang perlu dikonfrontasi oleh kebenaran firman Tuhan. Bisa dibayangkan! Pasti membutuhkan kemauan dan usaha plus (+) anugerah Tuhan untuk bisa berubah. Itu sebabnya sejak mulai bertobat, mereka perlu diajarkan firman Tuhan dan ditolong untuk menaatinya agar terjadi perubahan nilai dan pola hidup yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan (Mazmur 119:9, 2 Timotius 3: 10-11).

Demikian pula halnya dengan berhala-berhala dalam kehidupan lama yang juga perlu ditinggalkan, seperti misalnya: game online, sinetron, dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa menjadi ilah-ilah yang merebut hati generasi muda kita. Padahal, Kristus lah yang harus menjadi pusat hidup orang percaya. Mengarahkan hati dan pikiran kepada Kristus terjadi jika orang percaya bersedia menuhankan Kristus (Lukas 9:23; Kolose 3:1,2). Bagaimana agar students yang dibina dapat menuhankan Kristus? Satu-satunya cara adalah menjalani hidup dengan mentaati Firman Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Memang bukan semudah membalikkan telapak tangan untuk menundukkan diri kepada kedaulatan Kristus. Dibutuhkan pembina rohani yang bersedia menemani perjalanan hidup students, karena godaan dan tantangan dunia tidak akan berhenti mencobai anak-anak Tuhan. Untuk mendampingi perjalanan hidup, mereka membutuhkan bukan hanya pengajaran dan doa saja, tetapi juga tenaga, waktu, dana, emosi, dan bahkan airmata. Mereka membutuhkan pengajaran kebenaran yang tidak sekadar teoritis, melainkan juga nyata dapat dilihat dan dirasakan oleh mereka. Pembina rohani perlu mendampingi mereka agar mengalami Allah yang hidup berdaulat dalam tiap aspek kehidupan mereka. Baru dengan demikian mereka akan mengerti arti menuhankan Kristus, arti mengarahkan hidup kepada Dia, apapun situasi yang dialami, dan tetap berpegang percaya kepadaNya.

Memerdekakan students dari sifat dan karakter manusia lama
Ada hal lain lagi, yaitu memerdekakan students dari sifat-sifat manusia jasmaniah. Hal ini membutuhkan penanganan yang berhati-hati, karena sifat seseorang yang kita sebut dengan karakter seseorang sudah mulai terbentuk di tengah-tengah keluarga dan lingkungan sosial, terbentuk oleh lingkungan tersempit sampai lingkungan terbesar seseorang. Hal ini sebagai respon-responnya terhadap semua situasi yang telah diinternalisasikan sedikit demi sedikit, yang kemudian muncul dalam kebiasaan-kebiasaan hidup sehari-harinya. Karakter terbentuk dari kebiasaan hidup.

Contohnya, jika seseorang dibiasakan untuk berbagi dengan apa yang dimilikinya, maka ia akan cenderung menjadi orang yang karakternya murah hati. Sebaliknya, seseorang yang tidak dibiasakan untuk berbagi, akan cenderung menjadi pribadi yang pelit dan egois. Karakter positif dan negatif tidak terbentuk semalam saja. Itu sebabnya, dalam pertumbuhan seseorang dibutuhkan keberanian untuk meninggalkan zona nyamannya (kebiasaan yang sudah menahun dijalaninya sebagi sesuatu yang biasa-biasa saja). Bagi orang percaya, perlu menanggalkan karakter yang bersifat daging dan mengenakan karakter yang dikuasai Roh Kudus. Paulus menyebutnya sebagai buah Roh (Galatia 5: 22-23a). Bagaimana perubahan ini dapat terjadi dalam hidup orang percaya? Paulus menyebutnya jika orang percaya tersebut hidup oleh Roh dan dipimpin oleh Roh Kudus.

Itu sebabnya, di dalam menolong pertumbuhan karakter students, pembina rohani perlu peka terhadap karakter mereka dan menemukan sumber-sumber terbentuknya karakter tersebut, menunjukkannya dan menolongnya untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kedagingannya dan menggantikan dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kombinasi pola tegas dan kasih, mengajar dan meneladankan, punishment dan reward, mentoring dan coaching, bisa menjadi pilihan dalam memimpin dan mendampingi hidup mereka yang sedang berjuang untuk memiliki karakter seperti Kristus. Seperti yang Rasul Paulus katakan dalam Galatia 5:1, “supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Jadi, orang percaya berjuang untuk hidup merdeka dari ikatan kedagingannya, karena Kristus sudah memerdekakannya.

Jika ada di antara students di masa lampau pernah terlibat atau diikat oleh kuasa gelap, dikutuk atau mengalami trauma masa lalu yang mengganggu pertumbuhannya, mereka juga perlu dimerdekakan dari penghalang-penghalang yang ada. Konseling, doa, dan pelepasan bisa menjadi pilihan dari pendampingan bagi mereka. Jika seorang pembina rohani merasa kurang tepat untuk melakukan pelayanan bagi mereka yang mengalami persoalan tersebut, maka ada baiknya untuk meminta bantuan dari mereka yang dapat melakukan. Penyembuhan merupakan solusi untuk pertumbuhan iman mereka, namun demikian tetaplah kemauan untuk disembuhkan sangat diperlukan. Roh Kudus bisa bekerja dengan luar biasa pada orang-orang yang mengundangNya untuk menyembuhkan, karena kuasa Allah melampaui kuasa apapun di dunia ini.

Menjadi mentor agen perubahan
Orang-orang “merdeka” yang bertumbuh dalam Tuhan tentunya akan berbuah berlipat ganda, ada yang 30X lipat, ada yang 60X lipat, ada yang 100X lipat (Matius 13: 23). Mereka yang didesain dengan sengaja inilah yang siap untuk terjun dalam dunia nyata sebagai profesional yang menghadirkan kerajaan Allah di dunia. Di tahap ini, dibutuhkan kemauan untuk memperhatikan hidup sesama, bangsa dan negara. Meninggalkan keinginan untuk hanya memikirkan diri atau memperkaya diri, bersedia mengejar menghadirkan shalom di tengah lingkungan hidupnya dengan semua potensi yang dimiliki. Apa peran yang perlu dimainkan oleh seorang pembina rohani? Di tahap akhir mendesain, tolong mereka untuk memastikan panggilan hidupnya di tengah dunia, yakni tugas khusus yang Allah berikan kepadanya atau memastikan di mana hidupnya yang paling efektif dipakai oleh Tuhan. Mengawal, menasehati, menjadi mentor, mendorong terciptanya atau mempertemukan dengan komunitas-komunitas yang diperlukan, dan tetap berjalan bersama dalam “pilgrim progress” (perjalanan ziarah—red.) kehidupan tentunya.

Jika seorang student mengalami pembinaan yang demikian, tentunya harapan untuk menghadirkan alumni yang menjadi berkat makin besar untuk diwujudkan. Meski demikian, di tengah perjuangan keras yang sudah dilakukan, perlulah diakui bahwa banyak juga kelemahan yang turut hadir di dalamnya. Maka, tepatlah kita mengatakan, “Hanya karena anugerah-Mu, ya Tuhan, kami masih Engkau libatkan dalam karya besar-Mu di Indonesia.” Mari memperjuangkan terjadinya kemerdekaan hidup orang-orang yang dipilihNya. Merdeka!