Daniel Puspo Wardojo:
Melayani Dalam Kuasa Roh Suci

Ketika perintah menjadikan segala bangsa murid-Nya diberikan, Tuhan Yesus tidak hanya sekedar memerintahkan murid-muridNya untuk melakukannya, namun Dia juga memberikan janji penyertaan sampai akhir zaman (Matius 28:18-20).

Tentu disadari oleh Tuhan Yesus bahwa tugas ini sangat besar, karena menyangkut nasib seluruh bangsa dan juga wilayah yang sangat luas, yaitu dunia ini. Apalagi, murid-murid juga bukan manusia yang super. Mereka kadang bimbang dan goyah iman karena berbagai masalah, dengan segala keterbatasan mereka. Hal ini dapat mempengaruhi apakah tanggung jawab amanat yang agung ini dilakukan dengan baik atau tidak. Belum lagi, tantangan dari luar yang dihadapi dalam melayani juga tidak sedikit. Bukankah Tuhan Yesus sendiri mengalami tantangan demi tantangan ketika Dia melayani, bahkan sampai harus dianiaya dan mati? Tugas ini tentu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan hanya dengan mengandalkan kekuatan manusia. Maka dibutuhkan kekuatan atau kuasa Allah sendiri. Dan memang, melayani Tuhan tidak dimaksudkan untuk dilakukan dengan mengandalkan keberadaan manusia, melainkan harus bersandar kepada Allah.

Paulus dalam pelayanannya juga sering menyatakan bahwa semua yang dilakukan itu karena bergantung pada kuasa Roh. Misalnya, dia mengatakan bahwa perkataan dan pemberitaannya tidak disampaikan dengan hikmat manusia, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman orang-orang tidak bergantung pada hikmat manusia tapi pada kekuatan Allah (1 Korintus 2:4-5). Di dalam penderitaan yang dia alami karena pelayanannya, Paulus juga menyatakan bahwa dia dapat menanggung semua itu karena topangan dan kekuatan yang dari Allah. Juga dia meminta kepada jemaat supaya mendoakannya dalam melayani (Efesus 6:19-20).

Dalam melayani, kita mutlak bersandar kepada kuasa Roh Kudus, karena yang kita hadapi bukan darah dan daging. Kita sedang berperang melawan kuasa gelap. Ketika kita memberitakan Injil, kita tidak sedang mempengaruhi pikiran orang lain dan tidak sekedar menjelaskan konsep sesuatu atau tidak sekedar mengalahkan perdebatan. Ketika kita memberitakan Injil, kita sedang berperang memperebutkan jiwa orang yang berdosa itu dari belenggu Iblis. Itu sebabnya, kita memerlukan pertolongan Roh Kudus.

Ketika kita sedang berkotbah atau sedang memimpin KTB/PA atau sedang membawakan renungan, kita tidak sedang membagikan pengetahuan akan kebenaran atau sedang mempengaruhi pikiran atau keyakinan orang lain, melainkan sedang membangun hidup orang untuk menaati firman-Nya dan menyerahkan hidupnya pada Allah karena keyakinan pribadinya sendiri. Dalam hal ini pula, kuasa Roh Kudus dibutuhkan.

Melayani dengan kuasa Roh Kudus mutlak adalah kebutuhan semua orang percaya yang melayani Dia. Kita bisa memiliki karunia dan kemampuan tertentu untuk melayani, tapi semua itu tidak boleh menjadi tempat kebergantungan kita, karena kita dapat frustasi dan kecewa suatu saat nanti. Sebab, yang membuat orang bertobat dan percaya kepada Kristus adalah Roh Kudus. Yang membuat orang mau hidup dalam kebenaran adalah Allah sendiri. Maka sebenarnya kita harus menyadari akan kebutuhan kuasa Roh Kudus ini. Bahkan melalui kuasa Roh, kita dapat melakukan sesuatu yang mustahil bagi manusia, misalnya, melakukan mukjizat dengan berbagai macam bentuknya.

Yang menjadi persoalan kita adalah kesombongan kita sendiri. Kita merasa mampu, kita bangga dengan segala keberhasilan pelayanan kita. Kita merasa “hebat” karena diundang berbicara di mana-mana dan sebagainya, sehingga kita merasa tidak perlu bersandar pada kuasa Roh Kudus. Kita perlu menyadari, bahwa pelayanan yang digerakkan oleh kekuatan dan kehebatan manusia akan semata-mata membuahkan kekaguman bagi manusia dan bukan untuk kemuliaan Allah serta tidak mampu membawa orang pada penyerahan yang mendalam, melainkan hanya semata-mata emosi sesaat.

Persoalan lainnya adalah ketidakpercayaan. Kita seringkali tidak percaya pada kuasa Roh Kudus dengan segala manifestasinya, meskipun kita mengaku kita percaya. Buktinya, kita tidak terbuka dengan karya-Nya atau kita membatasi kuasa-Nya hanya dalam hal tertentu saja.

Mari kita datang dan minta Roh Kudus menyatakan kuasa-Nya di dalam dan melalui hidup kita. Biarlah pelayanan kita berbuahkan jiwa-jiwa yang bertobat dan menyerahkan diri untuk menaati panggilan-Nya.

================
Daniel Puspo Wardojo adalah Staf Perkantas Purwokerto