Triawan Wicaksono:
Kesatuan yang Misioner

Bila kita membaca 1 Korintus pasal 1-2, kita dapat melihat dua hal. Pertama, ada sebagian jemaat Korintus yang lebih mengidolakan bahkan menyombongkan pemimpin lain dibandingkan Paulus. Kedua, mereka juga menyerang integritas Paulus sebagai rasul. Mereka menganggap bahwa khotbah Paulus tidak disampaikan dengan cara-cara yang “berhikmat” (2:1-5). Mereka juga memandang apa yang disampaikan Paulus sebagai berita yang terlalu sederhana dan layak dikategorikan sebagai “susu” (3:1-2). Kesombongan intelektual ini merupakan salah satu kelemahan jemaat Korintus yang menonjol (bdk. 8:1). Serangan seperti itu mendorong Paulus untuk memberikan pembelaan. Bagaimana Paulus membela diri?

Pertama, Paulus menegur jemaat dengan menuliskan bahwa mereka bukan orang-orang rohani. “Bukan rohani” di sini bukan berarti bahwa mereka tidak memiliki Roh Kudus dalam diri mereka. Di ayat 2:12, Paulus mengatakan, “Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah.” Di ayat 12:3, ia mengajarkan bahwa orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan pasti di dalam dirinya sudah ada pekerjaan Roh Kudus (band. “di dalam Kristus” di 3:1). Dalam surat-suratnya yang lain, Paulus pun mengajarkan bahwa dalam diri orang percaya sudah ada Roh Kudus (Rm. 8:9; Gal. 3:2-3; Tit. 3:5-7). Sebutan “bukan orang rohani” di sini berarti bahwa mereka—sekalipun memiliki Roh Kudus dalam diri mereka—tidak berpikir dan berperilaku sebagai orang-orang yang memiliki Roh Kudus. Mereka hanya manusia duniawi, sarkinos (ay. 1). Kata ini lebih merujuk pada manusia yang dikuasai oleh kedagingan (sarx) karena memang terbuat dari daging. Mengapa mereka demikian? Karena mereka memang belum dewasa dalam Kristus, atau menurut terjemahan NASB, infants in Christ.

Celakanya, ketika seharusnya dari sudut waktu sudah bertumbuh makin dewasa, ternyata mereka masih manusia duniawi. Kata Yunani “manusia duniawi” di ayat 3-4 adalah sarkikos. Kalau sarkinos di ayat 1 lebih menunjuk pada orang yang dikuasai kedagingan karena memang masih bayi secara rohani, maka sarkikos di ayat 3-4 lebih mengarah pada orang yang dikuasai kedagingan yang tidak wajar. Seharusnya mereka menjadi manusia rohani, bertumbuh makin dewasa di dalam Kristus, tetapi nyatanya tidak demikian.

 

Pemuridan: panggilan untuk bertumbuh.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita bertumbuh? Ataukah kita masih hidup di dalam kedagingan? Lebih mudah menambah pengetahuan tentang Alkitab daripada menaatinya. Lebih mudah mengkhotbahkan Alkitab daripada bertumbuh menjadi manusia rohani, menjadi dewasa di dalam Kristus. Bila kita tidak bertumbuh dan kita tidak menyadari bahwa diri kita sedang tidak bertumbuh, itulah yang akan memecah belah kita.

Kesatuan yang misioner hanya mungkin kalau kita sedang terus menjadi murid dan kita sedang terus memuridkan. Ketika kita menjadi murid, tidak menjadi manusia sarkikos, maka kita akan mudah bersatu. Kita bisa berbeda pendapat, tetapi tidak akan sampai berkonflik. Kita tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita akan fokus untuk terus menjadikan segala bangsa murid. Kalau kita tidak menjadi murid dan hidup dalam kedagingan, pasti kita akan berkonflik, entah secara frontal maupun diam-diam. Waktu, pikiran dan energi kita akan habis, bukan untuk memuridkan siswa dan mahasiswa, tetapi untuk berkonflik saja. Ini tentu saja adalah suatu kerugian bagi kerajaan Allah.

Mari kita sama-sama menjadikan Perkantas ini a safe community. Komunitas di mana kita semua aman untuk menjadi diri sendiri. Aman untuk terbuka terhadap kelemahan, kesalahan, dan dosa kita. Aman untuk membagikan kepahitan, masalah, dan pergumulan kita. Aman untuk memberi saran dan kritik. Dengan demikian, kita menjadi murid yang terus saling menajamkan satu dengan yang lain, makin dewasa di dalam Kristus. Pastilah persatuan kita akan makin kuat sehingga Tuhan akan memakai kita lebih heran lagi untuk menjangkau bangsa-bangsa, untuk memulihkan ciptaan, bagi kemuliaanNya.

 

*Penulis adalah Triawan Wicaksono, Sekjen Perkantas
**Diterbitkan dari Perkantas News Edisi III, Tahun 2012