Venny Amelia Wongso,S.Kom, M.A.:
Regenerasi: Investasi Yang Paling Sering Diabaikan

Dalam sebuah organisasi yang bergerak maju, regenerasi kepemimpinan akan menjadi sesuatu yang sangat penting dan berharga untuk dipersiapkan. Proses regenerasi yang dimaksudkan adalah serangkaian langkah sistematis untuk menyiapkan, membentuk, dan mengalihkan tanggung jawab kepemimpinan atau posisi strategis kepada generasi penerus agar organisasi tetap berkelanjutan, stabil, dan adaptif.

Pelayanan Perkantas tidak hanya sekadar sebuah gerakan tetapi juga sebuah organisasi yang perlu untuk ditatakelola dengan baik. Inilah keunikan pelayanan Perkantas, bagaikan keping mata uang yang kedua sisinya tidak bisa dipisahkan. Dengan keunikan pelayanan Perkantas inilah, diperlukan orang yang dapat menjaga visi dan meneruskannya dari generasi ke generasi. Disinilah proses regenerasi diperlukan.

Mengapa regenerasi dalam pelayanan Perkantas harus dipersiapkan dengan baik? Beberapa orang mungkin akan menjawab karena sudah seharusnya, beberapa orang lagi akan berpikir Perkantas telah berusia 55 tahun pada tahun 2026 ini tentu sudah ahli dalam menjalankan organisasi yang besar ini. Bahkan mungkin beberapa orang meyakini Perkantas yang gerakan pelayanannya adalah pemuridan, tentu akan mudah dalam meneruskan visinya kepada orang yang dimuridkan.

Setidaknya ada tiga alasan yang menurut saya mengapa regenerasi dalam pelayanan Perkantas harus dipersiapkan dengan baik.

1. Kita bukan menghasilkan aktivis melainkan pelayan yang setia

Dengan hadirnya pelayanan Perkantas di sekolah, di kampus bahkan di dunia alumni membuat Perkantas tentu tidak hanya melayani segelintir orang saja. Jauh lebih mudah untuk menarik orang untuk mengikuti kegiatan yang kita lakukan dari pada melatih orang untuk tetap setia dalam masa yang sulit. Jauh lebih mudah mengajak orang untuk menjadi pengurus Board, Persisten, TPS, PMK Kota, TPPM, PAK dari pada menjadikan para pengurus sebagai pelayan yang setia, rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang demi mengabarkan Injil dan menghasilkan murid. Perkantas harus serius menghasilkan murid-murid yang setia, bukan hanya seorang aktivis.

2. Kita bukan menghasilkan orang yang hanya mampu mempercakapkan Firman, melainkan juga menjadi pelaku Firman

Sebagai seorang pengurus dalam pelayanan Perkantas, kita sudah dilatih secara teori dan teknis tentang cara mempercakapkan Firman, ini terbukti dengan serangkaian materi-materi pembinaan dalam kegiatan Perkantas yang terkait topik tersebut. Hal tersebut juga dilatarbelakangi oleh kebutuhan ladang saat visitasi ke sekolah maupun kampus.

Ini bukanlah hal yang salah, namun tentu yang kita rindukan adalah para pengurus atau binaan Perkantas tidak hanya mampu mempercakapkan Firman, melainkan juga menjadi pelaku Firman. Butuh ketekunan dan investasi waktu yang panjang untuk menghasilkan para pengurus dan binaan Perkantas dapat melakukan Firman Tuhan dalam sepanjang hidupnya. Karena itu perlu keseriusan dan doa yang tekun untuk mempersiapkan calon pengurus yang tidak hanya setia melayani tetapi juga menghidupi Firman Tuhan.

3. Kita tidak hanya menghasilkan para pekerja, tetapi juga pemimpin yang melayani

Didalam perjalanan pelayanan saya bersama Perkantas hampir 24 tahun ini sejak saya siswa, saya dapat melihat cara Tuhan menghadirkan orang yang setia dan menghidupi Firman Tuhan. Namun seringkali ketika diberikan tanggung jawab yang lebih sebagai seorang pemimpin dalam pelayanan Perkantas, hampir semuanya menolak dan merasa tidak mampu menjadi pemimpin (sejenak saya teringat kisah Musa).

Tentu hal ini menjadi ‘PR’ yang besar bagi kita. Pelayanan ini tidak hanya menghasilkan pekerja-pekerja yang setia dan melakukan Firman Tuhan dalam hidupnya tetapi juga mampu menjadi seorang pemimpin. Menghasilkan seorang pemimpin dalam pelayanan Perkantas tidak bisa asal-asalan. Jangan hanya karena tidak ada orang yang mau memimpin akhirnya dipilih siapa saja supaya jabatan organisasi itu tidak kosong. Kita perlu mempersiapkannya secara sengaja, terarah dan masif.

Dengan tiga alasan tersebut, setidaknya proses regenerasi yang sehat dapat kita upayakan. Karena itu langkah praktis yang dapat kita lakukan adalah memberikan fokus kepada 4P yaitu: (1) People: memetakan calon pengurus dan binaan. (2) Process: alur kaderisasi jelas. (3) Preparation: Mengembangkan kompetensi melalui training, mentoring, shadowing/ mendelegasikan peran secara bertahap. (4) Passing baton: jika waktunya tiba kita dapat melakukan serah-terima peran.

Investasikanlah waktu kita untuk menghasilkan orang yang dapat meneruskan pelayanan ini karena setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Kiranya pelayanan Perkantas terus dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya bagi dunia Siswa, Mahasiswa dan Alumni.

Oleh: Venny Amelia Wongso

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »