Solo

FASE 1 (Menangkap Visi Pelayanan Siswa dan Pemuridan) 1979-1984

Sejarah pelayanan pemuridan di kota Solo dimulai pada tahun 1978. Pada waktu itu, Inawati Kosasih yang berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bertobat dan dilayani di pelayanan mahasiwa di Jogja. Tuhan memberikan kerinduan di hatinya untuk melayani kota asalnya. Ia pulang ke Solo dua kali seminggu supaya bisa melayani siswa. Pelayanan tersebut menghasilkan empat siswa yang menyediakan diri untuk menjadi pengurus persekutuan. Dalam pimpinan-Nya, pada tanggal 13 Juli 1979 Persekutuan Siswa Kristen Solo (PSKS) diadakan untuk pertama kalinya. Persekutuan siswa Kristen di berbagai sekolah pun mulai diadakan. Sie KTB juga mulai dibentuk. Persekutuan dan KTB dilakukan sebagai bagian pembinaan waktu itu.

Masa-masa “jenuh” sempat menghinggapi pelayanan. Pembinaan terasa mulai menurun karena KTB sering berhenti di tengah jalan dan siswa yang menghadiri persekutuan besar mulai berkurang. Akan tetapi, Tuhan terbukti tak pernah meninggalkan pelayanan. Dia mempertemukan PSKS dengan Aquila Setiawan. Hal ini menjadi babak penting dalam perjalanan PSKS.

Dalam acara Kamp PSKS di Salatiga pada tahun 1982, Aquila membagikan tentang pentingnya menolong pribadi, yaitu: 1. Tujuan dalam membangun hidup orang, 2. Tahapan, 3. Materi, dan 4. Bentuk yang ideal dalam menolong orang. Hal-hal inilah yang menjadi filosofi pelayanan PSKS hingga kini. Sebagai tindak lanjut, Ina membentuk kelompok wakil sekolah (KWS Putra dan Putri, terdiri dari siswa SMA 1, 2, 3, dan Yosef). KWS adalah wadah untuk mendapatkan orang-orang kunci dari tiap sekolah. Ide baru muncul dengan membentuk Tim Kerja (para pembina PSK dari berbagai sekolah) yang beranggotakan Haryanti, Listina, Gunawan, Beny Siswanto, dan Sindhu (lebih senior), serta Mona (lebih muda). Merekalah yang menjadi orang-orang inti pergerakan pelayanan siswa.

Janji Tuhan yang dipegang Inawati, baik dari Yoh. 21:15-19 yang dimaknai sebagai perintah untuk menggembalakan siswa di Surakarta dan dari Yes. 2:1-3, serta visi telah yang diletakkan Allah, yaitu pelayanan yang menghasilkan para pembuat murid untuk mencapai bangsa-bangsa, juga dengan strategi fokus melayani pribadi-pribadi, membuahkan pelayanan kelompok kecil yang berkembang di sekolah-sekolah di Solo. Inawati kemudian menjadi staf pada tahun 1983.

 

Fase 2 – Menerapkan pemuridan (1984-1989)

Setelah kepindahan Ina ke Jakarta pasca menikah pada tahun 1984, pelayanan dilanjutkan oleh Tim Kerja (Beny Siswanto, Sindhu, Evi, Listina, Heryanto, Gunawan, dan Mona). Para waktu itu mereka masih berstatus mahasiswa, kecuali Sindhu yang telah bekerja.

Pada tahun 1985, Sindhu menyerahkan diri untuk menjadi staf penuh waktu. Tim Kerja tetap ber-PA dengan metode yang pernah dipelajari. Tiap beberapa bulan, mereka bertemu dengan Aquila untuk berkoordinasi dan berkonsultasi. Tuhan memperkuat pelayanan ini dengan bergabungnya Gunawan sebagai staf penuh waktu pada tahun 1989.

Tahun 1989-1994 merupakan tahun-tahun perkembangan pelayanan kejuruan dan mahasiswa. Tahun 1990, Daniel mulai melayani siswa dan mahasiswa kejuruan. Dari sinilah terbentuk Pelayanan Kejuruan (Pelayanan Profesi). Pada tahun 1997, Daniel pun menyerahkan diri untuk menjadi staf penuh waktu.

Sementara itu, TPS telah beregenerasi. Tim yang baru terdiri dari Ratno, Stefanus, Derny, dkk. Meski secara kuantitas pelayanan terasa menurun karena kebanyakan pemimpin PA berasal dari SMA 1, tetapi buah-buah pelayanan sangat dirasakan. Tahun 1992, Petrus yang adalah adik KTB Beny Siswanto berkomitmen menjadi staf penuh waktu dan memulai pelayanan mahasiswa. Inilah cikal-bakal lahirnya pelayanan mahasiswa.

Sementara itu, Gunawan tidak lagi terlibat secara formal di Solo karena melakukan pelayanan traveling ke Salatiga dan Purwokerto sejak tahun 1990. Jadi, hingga waktu itu pelayanan di Solo terdiri dari tiga komponen, yakni: Pelayanan Siswa, Pelayanan Kejuruan (Profesi), dan Pelayanan Mahasiswa.

Fase 3 (Perkembangan Luar kota) 1994 – sekarang

Atas anugerah Tuhan, pelayanan pun menyebar ke kota-kota sekitar, diawali dari Purwokerto melalui Endang, mantan adik binaan pelayanan siswa yang melanjutkan kuliah di Unsoed. Endang melayani siswa di Purwokerto hingga muncul kelompok lainnya, yaitu Kristanto dkk. Kristanto lalu melayani siswa di Purwokerto. Pada tahun 2002, Daniel dan istrinya memutuskan untuk tinggal di Purwokerto dan menjadi staf penuh waktu di sana.

Sementara itu pada tahun 1995, Catur Seno yang mendapatkan pembinaan dari pelayanan Solo menjadi asisten staf di Magelang dan menjadi staf penuh waktu tiga tahun kemudian. Dari Magelang inilah, muncul pelayanan siswa ke Parakan (Temanggung).

Hastjarjo yang waktu itu menjadi anggota Tim Pekerja di SMA 5 Solo pindah ke Karanganyar karena mengikuti orang tuanya dan memulai pelayanan siswa di sana. Tahun 1995, Tuhan memberikan beberapa siswa dari SMA 1 untuk dibina. Hastjarjo lalu melanjutkan studinya ke Australia dan pelayanan dikerjakan oleh Tim di Karanganyar, hingga pada tahun 2005, Yohanes menyerahkan diri untuk menjadi staf penuh waktu di Karanganyar.

Kemudian, ada juga Sudarwanto dan isteri yang memutuskan untuk tinggal di Sragen dan memulai pelayanan siswa di sana. Pada tahun 2003, Cucuk dan Yussy menyerahkan diri untuk menjadi staf penuh waktu. Cucuk melayani mahasiswa dan Yussy melayani siswa. Di Klaten, Dwi Suryanto melanjutkan pelayanan yang telah dirintis oleh para pendahulunya. Saat ini, koordinasi pelayanan siswa di Klaten dipegang oleh Tia yang menyerahkan diri untuk menjadi staf penuh waktu pada tahun 2010 dan juga memulai pelayanan di Boyolali.

Pelayanan di Solo juga menjangkau Tegal melalui Rini yang memulai pelayanan siswa di sana. Di Wonogiri, ada Wahyu dan isteri memutuskan untuk memulai pelayanan siswa. Sekarang, pelayanan itu diteruskan oleh tim di Wonogiri (Herman, Mada, dan Bita).

 

Tinggalkan Balasan