Kesederhanaan Yesus, Teladan Kita

“…Seorang Anak tlah lahir untuk kita, seorang Putera dib’rikan, lambang pem’rintahan di atas bahu-Nya, dan nama-Nya disebut orang…”

Sepenggal lirik lagu ciptaan Robert dan Lea Sutanto di atas akan mengantar kita menikmati indah dan damainya mengakhiri tahun ini. Lagu sendu dan teduh yang membawa setiap umat Kristiani mengalami kembali nubuatan Allah dalam Yesaya 9:6, bahwa Allah benar dan nyata berinkarnasi dalam rupa manusia. Nubuatan ini digenapi sekitar dua ribu tahun yang lalu, menunjukkan kesetiaan Allah kepada manusia yang telah berdosa dan terhilang (lih. Roma 3:23). Manusia benar-benar telah hidup jauh dan terpisah dari Allah. Kemuliaan Allah hilang dari dirinya. Setiap gerak dan keseluruhan keberadaan manusia sejak Kejadian pasal 3 telah tercemar oleh dosa, dan tak ada satupun dari diri manusia yang dapat membawanya hidup di dalam kekekalan.

Inisiatif Allah
Peristiwa Natal merupakan sejarah yang diukir Allah untuk dikenang sebagai peristiwa besar atas keselamatan manusia. Betlehem, kota kecil di Yehuda, menjadi wilayah yang ditetapkan Allah sebagai tempat lahirnya Mesias. Lukas mencatat, bahwa dalam persiapan kelahiran-Nya, tempat yang layak seperti rumah ataupun penginapan benar-benar tidak ada, sehingga tempat ternak lah yang menjadi satu-satunya pilihan untuk persalinan Maria. Mengapakah Sang Raja, Seorang yang akan memimpin Israel, yang lambang pemerintahan ada di bahu-Nya, lahir dalam keadaan yang hina?

Misi Allah melalui Yesus adalah keselamatan umat manusia, dan nubuatan serta penggenapan kelahiran-Nya tidak dalam keadaan yang mewah seperti pandangan dunia. Kedatangan Allah yang berinkarnasi dalam Yesus tidak diketahui oleh siapapun selain kaum kecil, yakni para gembala (Lukas 2:8-20). Dan, di dalam ketidaklayakan persalinan Maria, para gembala bersukacita menjumpai Sang Mesias yang dibungkus dengan lampin dan terbaring nyenyak di palungan. Mereka memuji Allah karena telah melihat kesukaan besar lahirnya Kristus. Mereka tidak lagi mempedulikan bagaimana dan di mana Kristus itu lahir, sebab mereka menyaksikan, bahwa keselamatan umat manusia sudah dimulai, berawal dari tempat yang kecil dan hina untuk membawa mereka yang percaya kepada Dia ke tempat yang kekal dan mulia (1 Yoh 5:13).

Keteladanan dalam kesederhanaan
Kelahiran Sang Juruselamat yang seperti demikian seharusnya menyadarkan kita, betapa masih seringnya kita mengukur orang lain dan diri sendiri dengan ukuran dunia, yakni prestasi, materi, dan “jam terbang” pekerjaan serta pelayanan yang dimiliki. Kita mengejar itu semua dan mengabaikan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai anak-anak-Nya. Fokus kedatangan Mesias adalah mencari yang terhilang, sehingga Dia tidak menekankan kehadiran-Nya dalam kemewahan dan status-Nya sebagai Raja yang disanjung. Apa yang kemudian dikerjakanNya, yaitu menceritakan tentang kerajaan Allah dan keselamatan di dalam Dia, itulah yang utama.

Pelayanan siswa, mahasiswa, dan alumni yang sedang kita kerjakan bersama adalah salah satu wadah bagi kita untuk menghadirkan kerajaan Allah, menceritakan tentang injil Yesus Kristus dan kebenaran-Nya kepada dunia, sampai akhirnya kita dapat melihat pekerjaan Roh Kudus yang mempertobatkan orang-orang yang kita layani. Dikenal ataupun tidak bukanlah masalah. Sekalipun karena panggilan ini kita menekan kerinduan dan hasrat pribadi, sehingga “terabaikan” di dunia, dikucilkan oleh keluarga, lingkungan sekolah, kampus, ataupun pekerjaan dan teman-teman, bahkan dari segi kepemilikan materi kita termasuk orang yang “tidak berada”, biarlah pandangan kita tertuju dan memandang kepada Kristus. Dia telah menunjukkan keteladanan kesederhanaan: terabaikan dan tidak dipandang dalam kelahiran-Nya. Namun, karena Dia lah, dunia yang terhilang dibawa kembali kepada Allah. Sekali lagi Yesus mengajarkan, bahwa yang terutama bukanlah siapa atau apa yang kita miliki dan bagaimana kita dikenal, melainkan bagaimana kehadiran kita menyentuh hati banyak orang, membawa banyak orang berpaling dari kegelapan kepada terang-Nya yang kekal.

“…Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal Raja Damai, sambutlah Dia, Yesus Tuhan Juruselamat dunia…”


*Doni Golo Tauno adalah Staf Siswa Perkantas Poso

Exit mobile version