Bukan Kematian Biasa

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. (Lukas 23:46)

 

 

Alkitab mencatat ada tujuh perkataan Tuhan Yesus di Salib dan nats di atas dikenal sebagai perkataan terakhir-Nya. Setelah berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku,” Yesus pun mati. Hal ini tentu meninggalkan duka yang mendalam dari orang-orang dekat Yesus, apalagi yang menyaksikan penyaliban itu dari dekat. Betapa tidak, Maria sebagai seorang ibu harus menyaksikan putra sulungnya tergantung meregang nyawa di atas salib terkutuk. Sementara Yohanes harus kehilangan Sang Guru bijaksana, pengajar penuh kasih itu, yang mati bagaikan seorang penyamun. Sungguh suatu peristiwa duka yang sangat mendalam dan menyesakkan dada.

Peristiwa duka itu terjadi pada diri Yesus yang tidak didapati kesalahan yang setimpal dengan hukuman mati. Ada yang tidak beres. Kalau Yesus tidak bersalah, kenapa Ia harus dihukum? Kalau tidak berdosa, kenapa Yesus harus disalibkan? Bagaimana mungkin hukuman salib, sebuah bentuk hukuman yang paling kejam dan mengerikan, ditimpakan ke atas Yesus yang tidak bersalah? Mungkin ini yang muncul dalam benak para penyaksi, para analis perkara pertama atas putusan pengadilan Pontius Pilatus. Sungguh suatu vonis yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat.

Berbagai pertanyaan di atas juga menjadi pertanyaan orang-orang zaman ini. Dalam suatu wawancara antara seorang wartawan dan Mel Gibson, sutradara fim “The Passion Of The Christ” yang terkenal itu, si wartawan bertanya, “Kalau Yesus tidak bersalah, lalu siapa yang bersalah sehingga Yesus harus disalibkan?” Mel Gibson menjawab, karena kitalah yang bersalah, maka Yesus menderita sengsara dan disalibkan. Kitalah penyebab penderitaan Yesus. Yesus rela menderita sengsara demi dan untuk kita.

Jauh sebelum penderitaan yang dialami oleh Yesus, Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang penderitaan Yesus Kristus yang digambarkan sebagai penderitaan seorang hamba Tuhan. Di Yesaya 53:3-5 tertulis,

Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

 

Jelas dari nubuatan nabi Yesaya di atas, bahwa penderitaan yang dialami oleh Yesus adalah bukan karena kesalahan atau dosa-dosa-Nya. Akan tetapi, semua itu dialami-Nya karena kejahatan, pelanggaran dan ketidaktaatan kita. Allah yang berlimpah-limpah dengan kasih itu menyatakan keadilan-Nya bukan kepada kita, melainkan kepada Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus, yang mati menggantikan kita.

Rasul Paulus berkata, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21 ). Jadi, kita yang bersalah di hadapan Allah, kini dibenarkan karena kematian Yesus Kristus telah menggantikan kita. Status kita yang sudah tervonis mati akibat dosa kita, kini diubahkan menjadi tidak bersalah; kita dibenarkan karena Kristus menggantikan kita sebagai tervonis bersalah.

Kematian Yesus Kristus di atas kayu salib bukan hanya menggantikan kita, tetapi juga memperbarui relasi kita dengan Allah. Kematian Yesus mendamaikan kita dengan Allah. Hubungan yang tadinya rusak karena dosa kini terjalin baik. Kolose 1:20-22 menegaskan kematian Yesus yang mendamaikan kita dengan Allah:

dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.”

 

Maka, jelaslah bahwa kematian Yesus bukanlah kematian biasa. Ia bukan mati sebagai seorang revolusioner yang gagal dan frustrasi berat karena mimpi-mimpi membangun Kerajaan Allah di bumi secara politis tidak tercapai. Ia juga bukan mati karena memberontak dan menghasut masyarakat melawan pemerintahan kerajaan Romawi yang berkuasa untuk tidak membayar pajak. Ia tidak mati konyol sebagai upah dosa karena menghujat Allah seperti yang dituduhkan kepadaNya. Akan tetapi, Ia mati karena dosa saudara dan saya. Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk menggantikan kita. Ia mati untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah.

Allah mengampuni manusia bukan karena ia memenuhi standar kesucian Allah. Perbuatan baik kita, sebaik apapun, tidak akan pernah menjadi kompensasi (pengganti) hukuman Allah atas segala pelanggaran dan ketidaktaatan kita. Pengampunan yang Allah berikan kepada kita, semata-mata karena kasih karunia-Nya kepada kita (bdk. Yoh. 3:16, Kol. 2:13-14).

Pengampunan Allah kepada kita oleh karena kematian Yesus juga telah menjamin kepastian keselamatan kita. Pengampunan yang membawa keselamatan ini adalah suatu anugerah. Efesus 2: 8-9 berkata, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Maka, kita yang percaya dan telah memperoleh pengampunan ini, sudah seharusnya mensyukuri pengampunan yang membawa selamat yang telah Yesus kerjakan bagi kita, dan bukan karena jasa, karya, atau prestasi serta reputasi kita.

Karena itu, mari kita sebagai orang percaya yang telah digantikan, didamaikan, diampuni dan diselamatkan Allah lewat kematian Tuhan kita Yesus Kristus, terus-menerus mendalami makna kematian Kristus bagi kita dalam memperingati Paskah tahun ini. Biarlah salib yang mengerikan dan mematikan namun yang menyelamatkan itu selalu menginspirasi kita untuk terus berbuat yang terbaik bagi kemuliaan nama Yesus, kapanpun dan di manapun Tuhan mengutus kita. Amin.

 

*Penulis adalah Immanuel Meok  PC Perkantas Kupang

*Diterbitkan dari Perkantas News Edisi I, tahun 2012
Exit mobile version