Monica Oktarevina Sigalingging, S. T.:
Dari Dia, Oleh Dia, dan Kepada Dia

/ Februari 20, 2016/ Sapa

Kamu tidak akan pernah bisa menjadi seorang Kristen sejati kalau kamu tidak mempunyai relasi yang dekat dengan Kristus itu sendiri, karena relasi dengan Allah adalah bagian yang terpenting dalam kehidupan orang Kristen,” Demikian ungkap Monica Oktarevina Sigalingging, S.T, atau biasa dipanggil Monic. Ketika ditemui Perkantas News di kantornya yang berada di bilangan Jakarta Selatan, alumnus pelayanan Perkantas Surabaya yang pernah aktif melayani di Tim Pembimbing Siswa ini membagikan bagaimana dia mengenal siapa Allah sampai akhirnya mau belajar setia akan setiap tuntunan Tuhan.

Dia yang memulai
21 April 2000, melalui acara Paskah Siswa kota yang dilayani oleh salah satu staf Perkantas di Makasar, Monic menerima Kristus. Berawal dari penerimaan Kristus ketika SMA itulah, Monic mulai terlibat dalam pelayanan siswa di Perkantas. Menurutnya, semakin cepat generasi muda diperkenalkan oleh Kristus, maka semakin mudah mereka bisa dibentuk sesuai kebenaran Firman.

Ketika melayani sebagai TPS, ada gesekan-gesekan yang terjadi dengan rekannya, tetapi hal itu justru semakin membuat Monic mengerti, bahwa pelayanan bukan masalah kita harus dimengerti manusia, tetapi kita melayani karena Allah telah terlebih dahulu melakukannya kepada kita dan sudah sepantasnya kita pun melayani sebagai ucapan syukur kita akan setiap karya Tuhan dalam kehidupan kita.

Ketika kita tidak melayani Kristus, ungkap Monic, itu berarti ada yang salah dengan kita, karena kita telah menerima kasih yang sangat besar dari Kristus dan seharusnya kita mengalirkannya juga kepada orang lain.

Hal yang bisa membuat kita kuat di dalam pelayanan adalah kebergantungan kita yang erat dengan Kristus. Karena kita hanya sebuah alat, dan yang mengerjakan segalanya dari awal adalah Kristus sendiri, melalui kita, demikian ungkapnya.

Do the God’s mission
Wanita kelahiran Ujung Pandang ini mengakui, bahwa tidak mudah untuk hidup jujur dan takut akan Tuhan di dalam dunia pekerjaan. Tapi seharusnya ada yang sangat membedakan, yaitu ketika orang dunia bekerja untuk mencari uang, pengakuan, dan popularitas, kita sebagai orang yang mengenal Kristus seharusnya tidak mengutamakan hal-hal itu di dalam pekerjaan kita. Karena dasar hidup kita dan apapun yang kita lakukan adalah firman Tuhan itu sendiri, maka lakukanlah segala sesuatunya seperti untuk Tuhan dan bukan manusia (Kolose 3:23).

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ini percaya, bahwa bekerja bukan hanya sebatas mencari uang dan pengakuan, tetapi di dalamnya ada visi Allah yang seharusnya kita lakukan seperti yang Kristus katakan di dalam Matius 28:19. Dunia pekerjaan juga menjadi tempat strategis untuk menjala hati-hati kosong yang mencari penerimaan dan memperkenalkan Kristus. “Do the God’s mission” adalah hal yang harus kita lakukan dan kerjakan di setiap tempat dan kesempatan yang ada.

Wanita penyuka warna merah ini juga mengajak kita semua untuk tetap menjaga kasih mula-mula kepada Kristus dan tetap fokus kepada salib Kristus, serta tidak pernah menyerah pada pertumbuhan. Tetap pada komunitas yang membangun dan teruslah melayani Kristus, demikian pesan Technical Specialist/Team Leader Bank Mandiri yang di tengah-tengah kesibukannya masih setia mengikuti persekutuan alumni Perkantas Surabaya di Jakarta ini. (NA)